Rahmah

Mengenal Lebih Dekat Qira'ah Sab'ah dalam Membaca Al-Quran

Mengenal Lebih Dekat Qira'ah Sab'ah dalam Membaca Al-Quran
Al-Quran (pinterest.com)

AKURAT.CO Al-Quran merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia. Awalnya, Al-Quran pertama kali turun hanya dengan satu huruf bacaan, namun dikarenakan umat Nabi Muhammad yang beragam; terdiri atas kaum Ummi (tidak bisa membaca dan menulis), maka bacaannya pun lebih dari satu huruf.

Selain itu terdapat banyak kabilah yang masing-masing memiliki karakter pengucapan dan dialek yang khas, serta adanya kalangan orang tua dan anak-anak yang tidak bisa mengucapkan lafadz dengan baik. Maka dari itu beliau memohon agar diringankannya membaca Al-Quran menggunakan lebih dari satu huruf. 

Dengan dikabulkannya permohonan itu, maka hal ini menjadi bentuk rahmat yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui dipertegasnya ucapan Jibril kepada Nabi Muhammad atas perintah Allah SWT.

baca juga:

يامحمد إن القران انزل على سبعة أحرف

Artinya: “Wahai Muhammad, sesungguhnya al-Quran diturunkan atas tujuh huruf”.

Pada abad kedua dan ketiga sepeninggalnya Rasulullah SAW, bacaan Al-Quran mulai beragam dan tak terhitung banyak perbedaannya hingga tidak bisa dibedakan antara bacaan yang shahih dan yang tidak sahih

Dari sinilah para ulama berupaya melakukan penelitian serta menghimpun qira’at yang sesuai dengan penulisan mushaf. Tiap bacaan yang disandarkan kepada salah seorang Qari’ (Ulama ahli bacaan al-Quran), itulah definisi Qira’at. 

Imam Abu Bakar bin Mujahid al-Bagdadi, beliau merupakan orang pertama yang menghimpun tujuh bacaan imam qiraat yang sampai sekarang masyhur dikenal dengan nama qira’at sab’ah. 

Bacaan Al-Quran yang disandarkan pada Ketujuh imam madzhab qiraat pada zaman Rasulullah SAW diantaranya:

Abdullah bin Katsir al-Dariry dari Makkah

Imam ibnu Katsir, lahir tahun 45H/665M dan wafat di Makkah Tahun 120H/737M. Beliau memiliki dua perawi yakni, Al-Bazzi (Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Abu Bazzah) dan Qunbul (Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Makhzumi)

Nafi’ bin Abd al-Rahman ibn Abu Nu’aim dari Madinah

Imam Nafi’, lahir pada tahun 70H/689M. Dan wafat Tahun 169H/785M di Madinah. Imam Nafi’ memiliki dua perawi yakni, Qalun (Abu Musa bin Mina) dan warsy (Usman bin Sa’ide al-Misri)

Abdullah al-Yashibiyn atau Abu Amir al-Dimasyqi dari Syam

Imam Ibnu Amir, lahir pada Tahun 21H/641M dan wafat di Damaskus Tahun 118H/735M, memiliki dua perawi yakni, Hisyam (Hisyam bin ‘Ammmar Ad-Dimasqi) dan Ibnu Zakwan ( Abu Amir Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakwan Ad-Dimasqi)

Zabban ibn al-Ala bin Ammar atau Abu Amr dari Bashrah

Imam Abu ‘Amr, Lahir pada Tahun 68H/687M dan wafat Kuffah Tahun 154H/770M. Memiliki dua perawi yakni, Ad-Duri (Abu Umar Hafs bin Umar) dan As-Susi (Abu Syu’aib Salih bin Ziyad As-Susi)

Ibnu Habib al-Zayyat atau Hamzah dari Kufah

Imam Hamzah, lahir pada Tahun 80H/699M dan wafat di Halwan Tahun 156H/772M, memiliki dua perawi yakni, Khalaf dan Khallad Ibnu Abi al-Najub al-Asadly atau Ashim dari Kufah. 

Imam ‘Asim

Beliau wafat di Kuffah pad tahun 128H/745M, memiliki dua perawi yakni, Syu’bah dan Hafs.

Abul Hasan Ali bin Hamzah Al-Kisa’i

Imam al-Kisa’i wafat Tahun 189H/804M. Memiliki dua perawi yakni, Abu Al-Harris dan Ad-Duri.

Ketujuh imam qira’at inilah yang secara khusus disebutkan oleh Imam Abu Bakar bin Mujahid al-Bagdadi. Dikatakan bahwa mereka merupakan ulama yang terkenal akan hafalan, amanah, masyhur di dunia qira’at, dan masyhur ketokohannya di masyarakat. Beliau menentukan tujuh imam tersebut atas pijakan pada keahlian dalam bidang qira’at dan kesesuaian bacaan mereka dengan mushaf usmani yang ada pada negeri mereka masing-masing. 

Sebelum ditetapkan oleh Imam Mujahid, sebetulnya sudah banyak yang menetapkan ketujuh imam tersebut sebagai rujukan ilmu qira’at. Akan tetapi, Imam Mujahidlah yang pertama memilih mereka sebagai imam yang mewakili negerinya masing-masing. Hal itulah yang menjadi lahirnya nama Qira’at sab’ah.

Di Indonesia sendiri, dengan penduduk mayoritas Islam, pada umumnya masyarakat menggunakan dan hanya mengenal Qira’at riwayat Hafsh dari imam Ashim. Padahal masih banyak qira’at yang juga sama muttawatirnya seperti pada qira’at sab’ah imam lainnya. 

Ketidaktahuan masyarakat ini dikarenakan masih sedikitnya ilmu qiraat yang di ajarkan secara umum, bahkan terkadang belum terdengar sekalipun. Hanya sedikit atau segelintir orang yang mengenal dan mempelajarinya dibangku-bangku perkuliahan ataupun dalam pondok pesantren.[]