Tech

Mengenal Pseudosains, Ilmu Semu yang Diklaim sebagai Sains

Seolah-olah Ilmiah, padahal tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.


Mengenal Pseudosains, Ilmu Semu yang Diklaim sebagai Sains
Ilustrasi astrologi. (pixabay.com/miracosic)

AKURAT.CO  Penyebaran arus informasi semakin berkembang pesat. Berbagai informasi pun bisa dengan cepat menyebar bahkan bisa dengan mudah juga menjadi viral. Diantara berbagai macam informasi yang tersebar, pernahkah kamu mengetahui sesuatu yang terdengar ilmiah, sehingga banyak orang yang percaya? Namun, ternyata sesuatu tersebut tidak ilmiah sama sekali. Misalnya, konspirasi, klaim pengobatan tertentu yang belum dibuktikan secara ilmiah, dan sebagainya. 

Hal-hal seperti itu dinamakan pseudosains. Pseudosains merupakan sebuah pengetahuan, praktek, metodologis, pengetahuan, informasi yang seolah-olah ilmiah. Akan tetapi tidak mengikuti metode ilmiah, tidak diuji secara ilmiah, atau gagal diuji secara ilmiah. Meski tidak terbukti secara ilmiah, pseudosains biasanya disampaikan dengan cara-cara yang terlihat ilmiah. Misalnya, melalui grafik, dengan buku, dan literatur lainnya. 

Bisa dikatakan, pseudosains merupakan ilmu semu atau ilmu pengetahuan yang sama sekali tidak berdasarkan sains, tapi masih sering dipercayai oleh banyak orang. Meski ada kata sains dalam kata pseudosains, keduanya adalah hal yang bertolak belakang atau berlawanan. 

Contoh pseudosains yang populer adalah astrologi. Meski banyak yang tidak memercayai astrologi, tapi tidak sedikit juga yang masih percaya. Apalagi melihat ramalan berdasarkan zodiak yang kadang tepat menjadi hal yang menyenangkan oleh sebagian orang. 

Astrologi sama sekali tidak memiliki hubungan dengan sains, sehingga saat ada ramalan yang tepat, tentu hanya kebetulan belaka. Bukan berarti astrologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdasarkan sains atau terbukti secara ilmiah. Dalam banyak kasus, pseudosains juga menggunakan kesaksian orang untuk mendukung klaim mereka yang tidak terbukti secara ilmiah.

Pseudosains ini bisa terjadi ketika ada hal-hal di luar sains yang dinyatakan sebagai sains ketika terjadi masalah atau keraguan. Pseudosains akan muncul ketika ada yang mengklaim bahwa hal di luar sains tersebut telah dibuktikan secara ilmiah. Padahal, yang sebenarnya tidak demikian. Seperti yang sudah disinggung, kesaksian orang seringkali digunakan untuk lebih meyakinkan bahwa sesuatu sudah terbukti secara ilmiah. Argumentasi seperti ini biasanya muncul pada saat sains belum dapat menemukan jawabannya. 

Selain astronomi, contoh pseudosains lainnya, yaitu pengobatan alternatif iridologo. Pengobatan ini dilakukan dengan cara mendiagnosis penyakit sistemik melalui warna dan tekstur dari iris mata. Selain itu, ada juga palpasi, yaitu diagnosa pada bagian tubuh tertentu untuk melihat adanya kelebihan asam urat, fungsi liver, fungsi ginjal, dll. 

Saat dihadapkan dengan pseudosains, berpikir kritis dan bersikap skeptis sangat diperlukan. Selain itu, bisa juga dengan melawan segala bentuk pseudosains dengan sains atau ilmu pengetahuan. Gagasan atau ide harus dilawan dengan gagasan atau ide yang sesuai dengan metodologi keilmuan dari berbagai aspek epistemologis, aksiologis, hingga ontologis. Sains bermula dari premis-premis empiris dan bebas dibuktikan serta dikaji ulang oleh siapapun. 

Tidak hanya itu, memberikan pemahaman dan menyampaikan manfaat dari sains itu sendiri menjadi hal yang sangat penting. Di mana pemahaman mendasar mengenai sains dan metodenya harus tersedia seluas-luasnya dan mudah diakses. Jadi, ketika ada pseudosains orang tidak mudah percaya.