Lifestyle

Mengenal Penyebab, Gejala, dan Faktor Risiko Hipertensi Pada Anak

Anak-anak juga bisa terkena hipertensi. Oleh sebab itu, tekanan darah anak harus diperiksa  secara rutin mulai usia tiga tahun.


Mengenal Penyebab, Gejala, dan Faktor Risiko Hipertensi Pada Anak
Ilustrasi - Mengenal hipertensi pada anak (Freepik/jcomp)

AKURAT.CO Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah peningkatan kekuatan atau tekanan darah terhadap arteri dalam tubuh. Meski sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa, hipertensi juga menyerang anak kecil.

Adapun tekanan darah meningkat saat bayi tumbuh. Rata-rata tekanan darah pada bayi baru lahir adalah 64/41. Rata-rata tekanan darah pada anak usia satu bulan sampai dua tahun adalah 95/58, melansir Medline Plus. Adalah normal jika angka-angka ini bervariasi.

Semakin muda seorang anak, semakin besar kemungkinan hipertensi disebabkan oleh kondisi medis yang spesifik dan dapat diidentifikasi. Sementara anak-anak yang lebih besar dapat mengalami hipertesi karena alasan yang sama dengan orang dewasa, seperti kelebihan berat badan, gizi buruk dan kurang olahraga. 

baca juga:

Tekanan darah tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun, tanda dan gejala yang mungkin mengindikasikan keadaan (krisis hipertensi) meliputi:

  • Sakit kepala
  • Kejang
  • Muntah
  • Sakit dada
  • Detak jantung cepat, berdebar atau palpitasi
  • Sesak napas

Jika anak memiliki salah satu dari tanda atau gejala ini, segera bawa ke perawatan medis darurat.

Para orang tahu bahwa tekanan darah anak harus diperiksa  secara rutin mulai usia tiga tahun. Dan lakukan pemeriksaan pada setiap pertemuan kesehatan jika anak diketahui memiliki hipertensi. 

"Anak-anak bisa menderita hipertensi juga, maka alangkah baiknya Ayah Bunda tahu tensi anak. Itu sekarang bisa dilakukan di atas tiga tahun," kata dr. Endang Lestari Andayani, Sp.A(K) dalam Live Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesa, dikutip AKURAT.CO, Senin (16/5/2022). 

Jika anak memiliki kondisi yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, termasuk kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, penyakit jantung bawaan dan masalah ginjal tertentu, lakukan pemeriksaan tekanan darah segera setelah lahir.

Anak-anak yang memiliki tekanan darah tinggi cenderung terus memiliki tekanan darah tinggi sebagai orang dewasa kecuali mereka menjalani pengobatan sejak dini.  Apabila hipertensi berlanjut hingga dewasa, anak dapat berisiko:

  • Stroke
  • Serangan jantung
  • Gagal jantung
  • Penyakit ginjal

Hipertensi dapat dicegah dan diobati pada anak-anak dengan membuat perubahan gaya hidup, seperti mengontrol berat badan anak, memberikan diet sehat rendah garam (natrium) dan berolahraga. Sementara hipertensi yang disebabkan oleh kondisi lain terkadang dapat dikendalikan, atau bahkan dicegah, dengan mengelola kondisi yang menyebabkannya.