Lifestyle

Mengenal Arti Tersembunyi Pakaian Adat Pernikahan Riau

Pakaian Teluk Belanga dan Kebaya Labu merupakan pakaian adat yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau.


Mengenal Arti Tersembunyi Pakaian Adat Pernikahan Riau
Pakaian Adat Riau (PERPUSTAKAAN.ID)

AKURAT.CO, Pakaian Teluk Belanga dan Kebaya Labu merupakan pakaian adat yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau. Teluk Belanga untuk laki-laki, sementara wanita memakai Kebaya Labu.

Awalnya, Teluk Belanga maupun Kebaya Labuh merupakan identitas Muslim Melayu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pakaian ini juga banyak digunakan oleh masyarakat hingga akhirnya menjadi identitas masyarakat Riau. Maka tak heran bila, pakaian Teluk Belanga dan Kebaya Labu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dalam Islam.

Kebaya Labuh

Sekilas, Kebaya Labuh atau Belah Labuh tak jauh berbeda dengan kebaya pada umumnya. Hanya saja, Kebaya Labuh lebih panjang hingga batas lutut atau betis. Baju yang panjangnya tiga jari di atas lutut menandakan belum menikah, sedangkan baju yang panjangnya tiga jari di bawah lutut menyatakan telah menikah.

Selain itu, ukurannya juga agak longgar sehingga ukuran dan bentuk pinggang serta pinggul tidak terlihat jelas. Panjang lengan kebaya labuh berkisar dua jari dari pergelangan tangan, sehingga bisa memperlihatkan gelang yang dipakai. Sementara lebar lengannya berkisar tiga jari dari permukaan lengan tangan.

Untuk mempercantik penampilannya, Kebaya Labuh juga biasanya dilengkapi empat sampai lima kancing yang disemat dengan pin maupun keronsang. Saat ini, Kebaya Labuh biasanya dipadukan dengan batik dan juga kerudung yang kemudian dibelitkan ke leher agar bagian dada wanita benar-benar tertutup. Umumnya warna selendang disesuailan dengan warna kebayanya.

Teluk Belanga

Teluk Belanga terdiri dari baju, celana dan kain samping serta penutup kepala. Leher baju berkerah dan berkancing lima, yang melambangkan rukun Islam. Ini bisa berupa kancing tep, kancing emas atau kancing permata.

Kain samping biasanya menggunakan kain songket, diikiat setinggi lutut. Cara pasang kain samping ini bervariasi. Ada yang pemakaiannya seperti kain biasa, dipunjut ke samping, ataupun ditarik ke samping kiri pinggang, tergantung siapa pemakainya. Sementara penutup kepala atau disebut juga tanjak, terbuat dari jenis kain yang sama dengan baju, celana atau kain samping.

Pakaian adat ini biasanya dikenakan pada saat acara resmi, seperti pernikahan atau upacara adat. Khusus untuk acara pernikahan, terdapat beberapa aksesoris tambahan.

Pada pengantin pria, akan ada topi atau mahkota sebai warna kuning yang diletakkan di bahu, sepatu berbentuk runcing, canggai pada kelingking, serta keris berbentuk kepala burung serindit yang diletakkan di pinggang kiri.

Sementara pengantin wanita pun akan dilengkapi dengan aksesoris berupa mahkota, sebai warna kuning yang diletakkan di bahu, serta berbagai perhiasan seperti kalung, gelang, dan anting-anting.

Adapun secara filosofi, Teluk Belanga dan Kebaya Labuh sebagai pakaian adat tradisional Riau disebutkan mengandung nilai-nilai filosofi seperti nilai semangat, syukur, nilai kejujuran dari masyarakat Riau.

Warna-warna pada pakaian Teluk Belanga dan Kebaya Labuh mempunyai maknanya sendiri. Berikut makna pakaian Teluk Belanga dan Kebaya Labuh, mengutip Perpustakaan.id:

  • Hijau lumut : melambangkan kesuburan, kesetiaan, taat, dan kepatuhan.
  • Kuning keemasan : dimaknai sebagai kebesaran, otoritas dan kemegahan.
  • Merah darah : berarti kepahlawanan dan keberanian, taat dan setia kepada Raja dan rakyat.
  • Hitam : melambangkan kesetiaan, ketabahan dan bertanggung jawab dan kejujuran.[]