Lifestyle

Mengenal Moluuna, Upacara Khitan Anak Laki-laki Gorontalo Penanda Memeluk Islam

Moluuna adalah upacara khitan (sunat) bagi anak laki-laki di Gorontalo.


Mengenal Moluuna, Upacara Khitan Anak Laki-laki Gorontalo Penanda Memeluk Islam
Ilustrasi - Moluuna di Gorontalo (gorontalo.kemenag.go.id)

AKURAT.CO  Moluuna adalah upacara khitan (sunat) bagi anak laki-laki di Gorontalo. Melansir dari laman resmi Kemendikbud, Moluuna dilakukan kepada anak usia berusia 10 sampai 12 tahun, dan sudah tamat mengaji. Tetapi zaman dulu, tradisi sunat suku Gorontalo  ini dapat dilakukan pada anak laki-laki usia enam hingga 10 tahun.

Moluuna sendiri telah menjadi sebuah kewajiban bagi muslim di Gorontalo sejak zaman nenek moyang. Pasalnya, upacara ini dianggap sebagai salah satu penanda memeluk Islam. Juga pembentukan moral, dan pemantapan nilai-nilai ajaran Islam yang harus dilaksanakan oleh muslim Gorontalo. 

Setelah melaksanakan proses khitanan, anak laki-laki akan dibaiat sesuai dengan syariat Islam. Diawali dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, anak laki-laki tersebut akan mendapatkan ilmu tentang agama Islam, seperti rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Tak lupa pula, dia juga akan mendapatkan ilmu tentang hukum tahara, dimana dirinya harus menjaga kesucian, terutama saat salat. Misalnya, penis harus selalu dicuci atau dibersihkan setelah buang air kecil agar tetap suci saat hendak melaksanakan salat.  Apabila dilihat dari sisi kesehatan, ini tentu memiliki dampak positif karena telah mengajarkan anak laki-laki tentang menjaga alat reprosuksinya sejak dini.

Sebagian besar orang tua di Gorontalo masih memiliki keyakinan turun temurun terkait waktu pelaksanaan sunat. Jika sunat dilakukan pada pagi hari maka darah yang keluarakan lebih banyak, dibandingkan pada sore hari. Mereka meyakini hal ini ada hubungannya dengan pasang surut air laut. 

Tak hanya waktu, pemilihan hari sunatan juga mengenal istilah hari baik dan buruk. Suku Gorontalo menilai hari terbaik untuk melakukan sunatan adalah Jumat. Ini dikarenakan pengaruh agama Islam. Sementara, hari buruk untuk melakukan suantan dikenal dengan istilah lowanga dan kalesua.

Pada saat lowanga, bahaya (kesialan) yang terjadi tidak seberapa, tetapi kalesua artinya sama sekali tidak bisa. Adapun pemilihan hari tersebut didasarkan pada peredaran bulan. 

Awalnya, proses Moluna dilakukan menggunakan alat tradisional oleh dukun, Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini dilakukan dilakukan oleh tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, atau bidan. Meski begitu, masih ada beberapa orang yang tetap melakukannya secara tradisional.