Lifestyle

Mengenal Gereja Asei, Bukti Penyebaran Agama Kristen di Papua

Gereja asei merupakan gereja tua di Papua, tempatnya di Desa Asei Besar, Kec. Sentani Timur, Kab. Jayapura, Papua.


Mengenal Gereja Asei, Bukti Penyebaran Agama Kristen di Papua
Gereja Asei, Gereja Tertua di Papua (Instagram)

AKURAT.CO, Agama Kristen masuk ke Papua berkat kedatanagan dua misionaris asal Jerman, yang bernama W.Ottow Carl dan Johann G.Geissler di Manokwari pada 1855. 

Mereka menyebarkan injil di pesisir utara Papua sampai teluk Youtefa. Masuk terus ke pedalaman sampai ke belakang gunung Cycloop. Pada 1 Juli 1928 Agama Kristen mulai masuk ke Pulau Asei. 

Peringatan masuknya agama Kristen ke Pulau Asei ini, kemudian di abadikan dalam bentuk tugu peringatan. Tanggal itu juga dijadikan sebagai hari besar bagi jemaat Gereja Asei.

Gereja Asei merupakan gereja tua di Papua, tempatnya di Desa Asei Besar, Kec. Sentani Timur, Kab. Jayapura, Papua. Untuk menuju lokasi gereja tua ini, harus menggunakan perahu, mengingat posisinya berada di tengah Danau Sentani.

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, Gereja Asei pertama kali dibangun sekitar 1930-an, dua tahun setelah kedatangan misionaris Jerman.

Namun, pada Perang Dunia Kedua, sekitar 1944, gereja ini hancur akibat pertempuran antara Jepang dan sekutu Amerika Serikat. Pulau Asei termasuk dalam wilayah pergerakan tentara Jepang atau lintasan merah. Oleh karena itu, Pualu Asei dibombardir habis Amerika  Serikat. 

Akibatnya, banyak bangunan yang rusak, dan penduduknya banyak yang mengungsi ke daerah lain.

Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, masyarakat di Pulau Asei membangun kembali gereja baru di tempat yang paling tinggi pada trahun 1955. 

Pembangunan gereja dipercayakan kepada seorang tukang kayu setempat, bernama Wolfram Wodong. Desainnya didapatkan dari Jerman, dari salah satu Sekolah Teknik di Jerman. Berbekalkan desain tersebut, Wolfram Wodong dan masyarakat Asei mewujudkannya hingga seperti yang sekarang.

Arsitektur gereja ini bergaya Neo-Vernakuler. Denahnya empat persegi panjang. Luasnya 12 x 40 meter persegi, menghadap ke barat. 

Atapnya berbentuk pelana, membujur barat-timur. Terbuat dari seng bergelombang dengan kerangka kayu.

Lantai gereja terbuat dari plesteran semen dan tidak memiliki plafond. Kerangka atap disangga oleh 10 tiang kayu. Menggunakan pasak setinggi 3,3 meter. 

Jumlah tiang penyangga ini melambangkan jumlah marga yang mendiami Pulau Asei yakni Ohee, Ongge, Pepoho, Asabo, Nere, Puhiri, Pouw, Kere, Modow, dan Yapese. 

Maknanya bahwa setiap marga berkewajiban menopang gereja itu. Tiang-tiang tersebut berjajar simetris di sisi kanan-kiri masing-masing 5 tiang. Tiang di dekat pintu terdapat ornamen patung, yang dipahatkan di bagian atas tiang. 

Patung sebelah kiri setinggi 90 cm melambangkan hawa. Patung di sebelah kanan setinggi 70 cm melambangkan Adam, sepasang manusia pertama di bumi. Sayangnya, pada tahun 2000, Gereja Asei mengalami kerusakan yang cukup berat. Hanya menyisakan atap menara paling bawah saja.

Sebagian dinding gereja sudah dirobohkan, karena Jemaat di sana menganggapnya sudah rapuh. Dengan maksud untuk memperbaikinya, mereka pun hendak merobohkan tembok bagian belakang. 

Beruntung hal ini dapat dicegah oleh pihak Kanwil Diknas Irian Jaya. Selanjutnya bangunan tersebut dipugar pada 2001 dan dijadikan situs gereja tua oleh Pemerintah Daerah Irian Jaya, kala itu.

Setelah dipugar, lonceng gereja tidak bisa dipakai. Sekarang lonceng tersebut diganti dengan lonceng tabung oksigen yang diletakan di depan halaman gereja. Gereja ini wajib kamu kunjungi saat berada di Sentani, Papua.[]