Lifestyle

Mengenal Gejala dan Pencegahan Skizofrenia di Hari Skizofrenia Sedunia

Peringatan Hari Skizofrenia Sedunia menjadi ajang penghapusan stigma dan diskriminasi menimpa penderita penyakit ini. Kenali gejala dan pencegahannya


Mengenal Gejala dan Pencegahan Skizofrenia di Hari Skizofrenia Sedunia
Tokoh joker diduga oleh banyak orang, mirip seperti pengidap skizofrenia. (Instagram/jokermovie)

AKURAT.CO Tanggal 24 Mei diperingati sebagai Hari Skizofrenia Sedunia. Hari Skizofrenia Sedunia pertama kali dicetuskan oleh Yayasan Skizofrenia Nasional di Perancis, untuk menghormati dr. Philippe Pinel. 

Dilansir dari laman Banyan Mental Health, Philippe Pinel merupakan seorang tokoh yang menggagas perawatan dan pengobatan penyakit mental.  

Peringatan Hari Skizofrenia Sedunia sekaligus menjadi ajang penghapusan stigma dan diskriminasi yang masih sering menimpa penderita penyakit ini.

baca juga:

Seperti diketahui, skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. 

Umumnya, pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri.

Hal ini yang membuat skizofrenia disamakan dengan psikosis, padahal keduanya ternyata berbeda.

Psikosis hanya salah satu gejala dari beberapa jenis gangguan mental, termasuk skizofrenia.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, skizofrenia ditandai dengan beberapa gangguan signifikan seperti delusi berupa keyakinan palsu yang tidak berdasarkan pada kenyataan. Misalnya, penderita berpikir sedang disakiti atau merasa bencana besar sedang terjadi. 

Lalu, halusinasi, biasanya melihat, mendengar, atau merasakan hal-hal yang tidak ada. Pikiran tidak teratur, akan memunculkan ucapan yang tidak teratur pula. 

Biasanya, kata-kata yang diucapkan cenderung tidak bisa dipahami. 

Perilaku motorik yang abnormal, seperti penolakan terhadap instruksi dan membuat gerakan tidak berguna atau berlebihan. 

Gejala negatif lainnya, mengacu pada kurangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal. Misalnya, seseorang yang mengabaikan kebersihan pribadi dan menarik diri dari kegiatan lingkungan. 

Gejala ini memiliki tingkat keparahan yang bervariasi. Pada pria, gejala skizofrenia biasanya dimulai pada awal pertengahan 20-an. 

Sementara pada wanita, gejala biasanya muncul di akhir usia 20-an. 

Meski cenderung muncul saat usia 20-an, tak menutup kemungkinan remaja juga merasakan gejala skizofrenia. Umumnya, gejala pada remaja mirip dengan gejala pada orang dewasa. 

Namun, kondisinya lebih sulit untuk dikenali. Hal tersebut lantaran beberapa gejala awal skizofrenia pada remaja mirip dengan masa perkembangan selama remaja, antara lain

  • Penarikan dari teman dan keluarga 
  • Prestasi di sekolah menurun 
  • Sulit tidur 
  • Suasana hati yang tertekan 
  • Kurang motivasi 

Dibandingkan dengan gejala skizofrenia pada dewasa, remaja lebih kecil kemungkinan untuk mengalami delusi. 

Jika gejala skizofrenia terlihat, umumnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik kepada pengidap. 

Selain itu, pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga juga akan dilakukan.

Sementara untuk pemeriksaan penunjang seperti tes darah, pemeriksaan CT Scan, atau MRI dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik dari gejala skizofrenia. 

Misalnya tumor otak atau kelainan metabolik, yang memiliki gejala halusinasi seperti skizofrenia. 

Saat ini tindakan pencegahan skizofrenia secara spesifik belum tersedia. Namun, pemeriksaan dini bisa membantu mengurangi tingkat keparahan gejalanya. 

Keharmonisan keluarga juga menjadi hal yang penting untuk dijaga, begitu pula dengan melakukan kegiatan positif dan rutin berolahraga.

Segeralah temui dokter, psikiatri, atau psikolog bila kamu mengalami gejala-gejala di atas atau gejala lainnya, seperti: 

  • Mendengarkan suara yang menyuruh menyakiti diri sendiri atau orang lain.
  • Memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
  • Merasa takut atau kewalahan dengan banyak ha;.
  • Melihat hal-hal yang tidak ada di sana atau nyata.
  • Merasa bahwa dirimu tidak dapat menjaga diri sendiri