Lifestyle

Mengenal Degenerasi Makula Terkait Usia yang Ancam Penglihatan Lansia

Dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia, lansia harus mewaspadai degenerasi makula terkait usia atau AMD karena berhubungan dengan pengeliatannya


Mengenal Degenerasi Makula Terkait Usia yang Ancam Penglihatan Lansia
Dokter Spesialis Mata Konsultan RSCM-FKUI, Gitalisa Andayani (PR PERDAMI)

AKURAT.CO Dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/ WSD) 2021, yang diperingati setiap kamis di minggu kedua pada bulan Oktober, kali ini bertemakan Cintai Matamu. Oleh karena itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mengingatkan betapa pentingnya penglihatan dalam menjalani aktifitas sehari-hari, sehingga semua orang harus mewaspadai degenerasi makula terkait usia atau AMD, terutama para lansia.

Seperti diketahui, AMD merupakan perubahan anatomi makula pada mata,  yang merupakan pusat fokus penglihatan pada retina. Perubahan anatomi ini bisa menyebabkan gangguan fungsi penglihatan mulai dari distorsi bentuk atau penglihatan buram, hingga buta pada penglihatan sentral.

Menurut Dokter Spesialis Mata Konsultan RSCM-FKUI yakni Gitalisa Andayani, mengatakan bahwa perubahan anatomi makula ini, membuat penderita AMD tidak dapat membaca, menulis, melihat wajah orang, bahkan bisa berpotensi kehilangan keseimbangan saat jalan.

“Pada dasarnya faktor risiko utama dari AMD adalah usia lanisa. Namun, beberapa faktor lain seperti faktor genetik dan merokok, juga bisa meningkatkan risiko AMD. AMD biasanya terjadi pada orang berusia di atas 60 tahun, tetapi dapat terjadi lebih awal karena ada faktor genetik atau sering merokok secara aktif atau pasif saat muda, meski sudah berhenti efek rokok itu bisa terjadi pada saat lansia yakni seperti AMDini,” ujar Gitalisa di Virtual Media Briefing Hari Penglihatan Sedunia 2021, pada Kamis (14/10)

“Mereka yang memiliki faktor risiko ini tentu harus waspada, karena jika tidak ditangani dengan baik, AMD bisa mengakibatkan komplikasi hingga kebutaan, bahkan juga memengaruhi kesehatan mental seperti risiko depresi dan isolasi sosial yang lebih tinggi,” sambungnya

Menurut Gitalisa, AMD sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu AMD kering (dry AMD) dan AMD basah (wet AMD). Pada AMD kering terjadi kerusakan makula secara bertahap, biasanya selama bertahun-tahun, karena sel-sel retina mati dan tidak diregenerasi. Sekitar 10% hingga 15% orang dengan AMD kering, penyakitnya akan berkembang menjadi AMD basah.

Gitalisa menambahkan, AMD basah, terjadi pertumbuhan pembuluh darah abnormal ke dalam makula, sehingga terjadi perdarahan atau akumulasi cairan di makula. Akibatnya, akan timbul jaringan parut pada makula yang menyebabkan pasien kehilangan penglihatan sentralnya (kebutaan). AMD basah sering berkembang dengan sangat cepat dan dapat menyebabkan kehilangan daya lihat yang sangat signifikan.

Gitalisa mengatakan, untuk gejala-gejala seseorang bakl terkena AMD yakni seseorang apabila melihat sebuah huruf, tetapi bentuk hurufnya goyang. Namun, gejela ini juga bisa dirasakan oleh calon pengidap glukoma atau diabetik retinopatik.

“Apabila ada pasien yang bergejala melihat huruf tapi hurufnya goyang, kita lakukan pemeriksaan dengan cara mengintip pupil lewat menggunakan alat pemeriksaan khusus, apakah ada bintik pada makula atau tidak. Kalau ada, berarti AMD,” katanya.

“Oleh karena itu, seluruh masyarakat termasuk lansia, perlu melakukan pemeriksaan mata secara berkala yakni satu tahun sekali, terutama ketika mulai menginjak usia 40 tahun. Serta perlu dideteksi berbagai gangguan mata degeneratif termasuk AMD,” tutupnya.