Lifestyle

Mengenal Cacar Monyet, Gejala Terbarunya Seperti Luka Cacar Pada Kelamin

Gejalanya bisa ringan atau parah, dan lesi bisa sangat gatal atau nyeri. Dari laki-laki gay yang tertular, muncul luka cacar di bagian kelamin. 


Mengenal Cacar Monyet, Gejala Terbarunya Seperti Luka Cacar Pada Kelamin
Ilustrasi cacar monyet (edules.com/Instagram)

AKURAT.CO  Sejumlah negara diduga sudah mendeteksi adanya kasus cacar monyet, di antaranya Kanada, Amerika Serikat (AS), Inggris, Portugal, Spanyol, dan Singapura.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendapatkan laporan penyakit cacar monyet pada 7 Mei 2022. 

Dikutip dari laman WHO, dalam laporan disebutkan bahwa kasus cacar monyet terkonfirmasi pada seseorang yang melakukan perjalanan dari Inggris ke Nigeria, sejak akhir April hingga awal Mei 2022.

baca juga:

Kasus mengalami ruam pada 29 April 2022. Dia meninggalkan Nigeria pada 3 Mei dan tiba di Inggris 4 Mei. Di hari yang sama, kasus dibawa ke rumah sakit. 

Berdasarkan riwayat perjalanan dan penyakit ruam, dia diduga terpapar cacar monyet dan segera diisolasi.

Pada 11 Mei, pelacakan kontak ekstensif telah dilakukan untuk mengidentifikasi kontak yang terpapar di fasilitas perawatan kesehatan, komunitas, dan penerbangan internasional.

Lalu, berdasarkan informasi European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), Jumat (20/5/2022), sudah ada kasus bermunculan di Portugal dan Inggris. 

Ada setidaknya tujuh kasus di Inggris dan lima kasus di Portugal. Ada juga 20 kasus suspek di Portugal. Kasus yang tercatat sejauh ini menimpa laki-laki muda. Dan ada delapan suspek di Spanyol. 

"Monkeypox (cacar monyet) adalah penyakit menular. Tranmisi antara manusia dapat terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau manusia, atau dengan zat tubuh manusia yang mengandung virusnya. Penularan antar manusia seringnya terjadi lewat droplet pernapasan yang besar," tulis ECDC pada lamannya, dikutip Jumat (20/5/2022).

WHO juga menjelaskan cacar monyet adalah zoonosis sylvatic dengan infeksi manusia insidental, yang biasanya terjadi secara sporadis di bagian hutan Afrika.

Ada dua clades atau kelompok taksonomi virus cacar monyet, yakni dari Afrika Barat dan clade Congo Basin (Afrika Tengah). Meskipun infeksi virus cacar monyet di Afrika Barat kadang-kadang menyebabkan kondisi parah pada beberapa individu, penyakit biasanya sembuh sendiri.

Rasio kasus fatalitas untuk clade Afrika Barat telah didokumentasikan menjadi sekitar 1 persen, sedangkan untuk clade Congo Basin kemungkinan 10 persen.

Cacar monyet dapat ditularkan melalui kontak dan paparan droplet yang diembuskan. Masa inkubasi cacar monyet biasanya 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. 

Penyakit ini sering sembuh sendiri dalam waktu 14 hingga 21 hari. 

Gejalanya bisa ringan atau parah, dan lesi bisa sangat gatal atau nyeri.

Gejalanya adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, menggigil, dan kelelahan.

Beberapa kasus terkini dari ECDC, dari laki-laki gay yang tertular, muncul luka cacar di bagian kelamin. 

Cacar monyet ini awalnya mirip cacar air atau sipilis pada kelamin, sebelum membentuk scab, dan akhirnya lepas. Penyakit ini dinyatakan tidak lagi menular ketika scab di tubuh sudah terlepas.

"Reservoir hewan tetap tidak diketahui, meskipun kemungkinan berada di antara hewan pengerat. Kontak dengan hewan hidup dan mati melalui perburuan dan konsumsi hewan liar atau daging semak dikenal sebagai faktor risiko," jelas WHO.

Anak-anak juga berisiko lebih tinggi terpapar penyakit ini.

Cacar monyet yang menjangkiti ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi, bayi ikut terpapar cacar monyet atau lahir mati.