Lifestyle

Mengenal Bidar, Lomba Perahu Khas Palembang untuk Peringatan Ultah Ratu Belanda

Bidar adalah seni dayung tradisional Palembang, Sumatera Selatan.


Mengenal Bidar, Lomba Perahu Khas Palembang untuk Peringatan Ultah Ratu Belanda
Perahu Bidar di Palembang (WIKIPEDIA/Toadboat)

AKURAT.CO Bidar adalah seni dayung tradisional Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan catatan literasi, Bidar diduga singkatan dari Biduk Lancar. Adapun Biduk sendiri memiliki arti perahu. Bentuknya kecil dan hanya muat untuk seorang. 

Tak ada yang tahu pasti kapan munculnya lomba Perahu Bidar. Konon, lomba Perahu Bidar ini bermula dari perlombaan dua pemuda bernama Kemala Negara dan Dewa Jaya. Selain itu, perlombaan ini juga sudah ada sekitar tahun 1898, saat perayaan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina. Perlombaan ini pun tak hanya digelar saat memperingati hari ulang tahun ratu, tapi juga saat pesta yang digelar para pejabat pemerintahan Belanda.

Mengenal Bidar, Lomba Perahu Khas Palembang Untuk Peringatan Ultah Ratu Belanda - Foto 1
Perahu Bidar di Palembang goindonesiatours.com

Namun, beberapa ahli sejarah lainnya menyebut bahwa lomba Perahu Bidar bermula pada masa Kerajaan Sriwijaya atau Kesultanan Palembang Darussalam. Pada saat itu, Bidar disebut sebagai 'kendaraan perang' yang berpatroli di Sungai Musi untuk menjaga keamanan Palembang. Untuk mengingat eksistensinya, maka dibuat Lomba Perahu Bidar mulai masa Kesultanan Darussalam hingga sekarang.

baca juga:

Yang menarik, Bidar ini tidak hanya lekat dengan perlombaan, tapi juga kisah mistis yang mengiringinya. Salah satunya adalah tentang buaya Pemulutan yang selalu mendorong Bidar.  Konon, jika pendayung lomba Perahu Bidar adalah orang Pemulutan, besar kemungkinan dia akan menang karena bantuan buaya. 

Pada zaman dahulu kala, perahu ini hanya bisa dinaiki oleh satu orang saja. Akan tetapi, pada perlombaan sekarang, satu perahu dapat didayung oleh puluhan orang, yang memiliki peran dan tugas masing-masing. Orang yang berada di posisi paling tengah perahu disebut sebagai jurangan, atau Pawang Bidar. Dia akan berdiri di sepanjang pertandingan dan akan mengatur kekompakan dan mengawasi gerak gerik musuh.

Tak kalah penting adalah juru batu yang berada di bagian depan perahu. Dia berfungsi sebagai pengatur dan memberi komando kepada rekan-rekannya. Kemudian, ada pendayung di bagian depan, dan di bagian belakang disebut Kemudi yang bertugas untuk meluruskan jalan.

Pendayung di bagian tengah disebut Penarik, yang berfungsi melihat pergerakan lawan. Selain pnedayung, terdapat seorang penimba yang bertugas membuang air yang masuk ke dalam Bidar.

Pada HUT Kota Palembang tiap tanggal 17 Juni diadakan lomba perahu bidar yang memiliki panjang 12,7 meter, lebar 1,3 meter, dan tinggi 60 cm. Kapal bidar ini butuh 22 orang pendayung. Sementara pada saat HUT Republik Indonesia, masyarakat Palembang menggunakan perahu bidar yang lebih besar, dengan panjang 29 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 80 cm. Perahu bidar tradisional ini butuh 55 orang pendayung.

Adapun lomba Perahu Bidar ini bisa diikuti oleh laki-laki dan perempuan.[]