Lifestyle

Mengenal Bela Diri Langga yang Sarat Mistis Dari Gorontalo

Bela diri Langga adalah bela diri dari Gorontalo . Prosesi belajar Langga menimbulkan pro dan kontra bagi sebagian Masyarakat, karena memerlukan “korban”


Mengenal Bela Diri Langga yang Sarat Mistis Dari Gorontalo
Ilustrasi aksi bela diri langga dari Gorontalo (Instagram/like_gorontalo)

AKURAT.CO Bela diri Langga adalah bela diri rakyat Gorontalo yang merupakan refleksi dari cara hidup sehari-hari dan biasanya bersumber pada mitos, sejarah atau cerita rakyat di Gorontoalo.

Menurut Jurnal dari Universitas Gorontalo berjudul “Bela Diri Tradisional Langga”, yang ditulis oleh Syamsudin Mopangga, dkk, mengatakan bahwa bela diri Langga diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya dengan menggunakan alat atau cara-cara yang sederhana, berfungsi spiritual dan sosial, serta sarat dengan makna simbolis.

Bela diri ini berfungsi sebagai pertahanan diri dan pertahanan wilayah, selain itu merupakan sarana pendidikan pembentukan karakter masyarakat.

Langga pernah menjadi bela diri tradisional yang di gunakan untuk pertahanan pada dahulu kala. Dulu Para Ahli dalam Langga yang sudah mengusai gerakan Langga, akan direkrut sebagai laskar untuk menjaga kerajaan di Bone Bolango, Gorontalo dari penjajah pada abad ke-16.

“Bahkan pada dahulu banyak peLangga (ahli bela diri Langga) yang di bayar untuk menjadi kekuatan keamanan pada saat itu. Tapi sayang langga ini tidak lagi menjadi olahraga yang di idolakan oleh para generasi penerus di Bone Bolango. Langga terakhir bergening pada tahun 1993, “ ujar Guru Bela Diri Langga Desa Bulondala yakni Ismail Suna, dikutip dari Jurnal berjudul “Bela Diri Tradisional Langga”, pada Kamis (14/10).  

“Setelah itu Langga ini hanya di jadikan sebagai tarian untuk menyambut tamu-tamu besar dan hanya digunakan pada pesta-pesta pernikahan orang-orang tertentu,” sambungnya.

Menurut jurnal, Ismail sangat menyayangkan bela diri Langga  sudah tidak seperti pada dulu kala. Padahal bela diri ini adalah salah satu peninggalan budaya tradisonal, yang sepatutnya harus tetap di jaga dan dilestarikan.

Dikutip dari jurnal, sebelum mempelajari teknik bela diri Langga,  diwajibkan melakukan prosesi kebatinan yang dipercaya akan memberikan suatu kekuatan mistis. Hal yang sama pun juga dilakukan setelah mempelajari teknik Langga,

Prosesi ritual dari bela diri Langga tersebut menimbulkan pro dan kontra bagi sebagian Masyarakat, karena memerlukan “korban” berupa ayam jantan sebagai bagian dari prosesi untuk mempelajari langga ini. Berikut prosesi-prosesi mempelajari Langga yang menimbulkan pro dan kontra.