Lifestyle

Mengenal Banjar, Suku Besar Indonesia Asli Kalimantan Selatan

Banjar atau biasa disebut Urang Banjar merupakan suku mayoritas di Kalimantan Selatan


Mengenal Banjar, Suku Besar Indonesia Asli Kalimantan Selatan
Penari tradisional Banjar (Shutterstock/Donny Sophandi)

AKURAT.CO, Banjar atau biasa disebut Urang Banjar merupakan suku mayoritas di Kalimantan Selatan, dan sudah ada sejak abad ke-17. Berdasarkan sensus penduduk 2010, orang Banjar di Indonesia berjumlah 4,1 juta jiwa. Sekitar 2,7 juta orang Banjar tinggal di Kalimantan Selatan dan 1 juta orang Banjar tinggal di wilayah Kalimantan lainnya serta 500 ribu orang Banjar lainnya tinggal di luar Kalimantan karena merantau.

Meskipun dikenal sebagai suku asli Kalimantan Selatan, Banjar diduga berasal dari Sumatera. Mereka berpindah ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Kalimantan Selatan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu.

Setelah itu, mereka bercampur dengan suku Dayak dan sejumlah suku-suku lainnya, seperti Bukit, Maanyan, Lawangan, dan Ngaju yang banyak juga dipengaruhi oleh Melayu dan Jawa.

Pada akhirnya, terbentuk tiga subsuku, yaitu Pahuluan, Batang Banyu, dan Kuala. Suku Banjar Pahuluan terdiri dari campuran orang Melayu-Hindu dan Dayak Meratus yang menggunakan bahasa Melayik. Suku ini mendiami kawasan hulu Banua Anam atau aliran-aliran sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus.

Lalu, Suku Banjar Batang Banyu mendiami kawasan hilir Banua Anam pada aliran Sungai Nagara sampai Sungai Tabalong. Mereka adalah campuran orang Pahuluan, Melayu-Hindu/Buddha, Keling-Gujarat, Dayak Maanyan, Dayak Lawangan, orang Dayak Bukit, dan Jawa-Hindu Majapahit.

Terakhir, Suku Banjar Kuala merupakan campuran orang Kuin, Batang Banyu, Dayak Ngaju, Kampung Melayu, Kampung Bugis-Makassar, Kampung Jawa, Kampung Arab, dan beberapa orang Cina Parit yang masuk Islam.

Suku ini menghuni daerah hilir Sungai Barito dan anak-anak sungainya, seperti Sungai Martapura, Sungai Alalak, Sungai Kuin, Sungai Kelayan, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa sampai Sungai Tabanio yang meliputi kawasan Banjar Bakula.

Suku Banjar menggunakan bahasa Banjar, yang berkembang sejak zaman Kerajaan Negara Dipa dan Daha yang bercorak Hindu-Buddha hingga datangnya agama Islam. Secara liguistik, bahasa yang digunakan Suku Banjar merupakan perpaduan rumpun bahasa Melayik dan Barito Raya. Adapun Bahasa Banjar memiliki dua dialek besar, yakni Banjar Kuala dan Banjar Hulu.

"Bahasa Banjar merupakan salah satu bahasa di Kalimantan yang wilayah pemakaiannya cukup luas, meliputi wilayah Kalimantan Tengah dan Timur, di samping Kalimantan Selatan sebagai wilayah penutur aslinya," tulis Moh. Fatah Yasin dalam bukunya berjudul Menelusuri Jati Diri Orang dan Bahasa Banjar.

Menurut Yasin, penutur Bahasa Dayak umumnya juga fasih menggunakan Bahasa Banjar. Akan tetapi, Bahasa Banjar sekarang sudah mengalami perubahan dengan masuknya kosakata Bahasa Melayu, dan Bahasa Jawa. Adapun Bahasa Banjar asli lebih sering dipakai saat diselenggarakannya ritual aruh, adat Kaharingan Dayak Meratus (Banjar Arkhais) oleh para Balian Kaharingan.

Selain suku Banjar, Kalimantan Selatan juga dipenuhi dengan suku-suku lainnya, termasuk Dayak yang merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan, Jawa, Madura, Bugis, Bakumpai hingga Sunda.[]