Tech

Kenali 8 Spesies Tumbuhan Baru yang Ditemukan di Indonesia Sepanjang 2020

Spesies baru tumbuhan unik dari Indonesia ini telah diterbitkan pada jurnal ilmiah nasional maupun internasional di sepanjang tahun 2020


Kenali 8 Spesies Tumbuhan Baru yang Ditemukan di Indonesia Sepanjang 2020
Etlingera tjiasmantoi (dok. LIPI)

AKURAT.CO  Penelitian yang berkolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari akademisi, peneliti dalam dan luar negeri, filantropis lingkungan, hingga staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sukses menemukan delapan spesies tumbuhan baru di Indonesia.

Spesies baru tumbuhan unik dari Indonesia ini telah diterbitkan pada jurnal ilmiah nasional maupun internasional di sepanjang tahun 2020. 

Berikut penjelasan dari masing masing spesies baru tersebut dalam keterangan tertulis yang diterima Akurat.co dari LIPI :

Bulbophyllum acehense, merupakan tumbuhan anggrek epifit yang tumbuh alami di pegunungan hutan Aceh Tengah, Propinsi NAD. Anggrek Bulbophyllum acehense memiliki perbungaan tunggal yang bermunculan dari bagian ruas-ruas rhizomnya. Bunganya berwarna kuning cerah mengkilap berlilin dengan corak halus garis garis kuning yang lebih pekat. Walaupun ukuran bunganya hanya berkisar 1,7-2 cm, namun memiliki bentuk unik yang mana bagian lateral sepalnya terpilin kuat ke belakang. Spesies anggrek baru ini juga memiliki keunikan pada bagian bibir bunganya yang menekuk tajam ke bawah seperti pengait. Epithet spesies menggunakan nama propinsi Aceh sebagai petunjuk bahwa kawasan Aceh memiliki keunikan diversitas anggrek yang tinggi. Penelitian diterbitkan di jurnal nasional Biologi Tropis.

Dendrobium rubrostriatum, juga merupakan anggrek epifit yang tumbuh menempel di kulit batang pepohonan. Susunan daunnya berevolusi secara unik membentuk seperti gergaji pipih dengan panjang total hingga mencapai 43 cm. Perbungaan muncul dari batang semu pipih dibagian ujung. Meski ukuran bunga tergolong kecil, yaitu lebarnya hanya berkisar 0,65-0,75 cm, akan tetapi memiliki kombinasi warna bunganya cukup mencolok. Sepal petal bunga berwarna dasar krem dengan garis garis memanjang merah keunguan. Spesies baru ini ditemukan di hutan dataran rendah Kalimantan Barat pada ketinggian 200-300 m. Meskipun demikian, observasi selanjutnya menunjukkan bahwa sebaran spesies baru ini mencapai kawasan Sarawak dan Sabah di Malaysia. Penelitian ini memerlukan waktu panjang hingga 6 tahun lamanya demi memperoleh data-data spesies pembanding yang akurat. Penelitian anggrek D. rubrostriatum diterbitkan di jurnal internasional Phytotaxa. 

Nepenthes putaiguneung, adalah spesies tumbuhan karnifora yang lebih akrab disebut dengan nama tumbuhan kantung semar atau periuk monyet. Indonesia merupakan salah satu gudang pusat keanekaragaman spesies tumbuhan Nepenthes di dunia. Terdapat sekitar 75 spesies tumbuhan Nepenthes dari seluruh kepulauan Nusantara yang sebagian besar berada di kawasan Pulau Sumatera. Penelitian Nepenthes baru ini merupakan kolaborasi dengan Dee Dee Al Farishy yang saat itu sebagai mahasiswa biologi Universitas Indonesia dengan Dr. Destario Metusala sebagai salah satu pembimbingnya.

Penelitian berlansung selama 6 tahun sejak 2014 untuk memastikan perbandingan data morfologi dilakukan secara cermat dan akurat. Nepenthes putaiguneung memiliki kantung bawah berukuran tinggi 12-13 cm dan lebar 1,5-2,3 cm dengan bibir peristome berwarna merah mengkilap serta berusuk pendek (0,3-0,5 mm). Sedangkan kantung bagian atas lebih ramping berukuran tinggi 8,5-15 cm dan lebar 1,4-2 cm, serta berbibir kehijauan dengan rusuk yang sangat pendek (< 0,3 mm) sehingga tidak nampak jelas. Nama epithet “putaiguneung” berasal dari bahasa lokal Kerinci, yaitu “putai” (puteri) dan “guneung” (gunung) yang merujuk dari keanggunan sosok spesies dataran tinggi ini yang menyerupai puteri gunung. Spesies baru ini diduga endemik Pulau Sumatera dan memerlukan perlindungan khusus dari perubahan habitat serta ancaman pengkoleksian tak terkendali. Penelitian ini berkolaborasi pula dengan peneliti dari Inggris dan diterbitkan di jurnal internasional Phytotaxa.

Dendrobium sagin adalah anggrek spesies baru berbunga indah dari hutan alami di Papua Barat. Penelitian anggrek spesies baru ini merupakan hasil kolaborasi dengan Reza Saputra selaku first author. Reza adalah staf pengendali ekosistem hutan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat, yang juga pernah menjadi mahasiswa biologi Universitas Indonesia bimbingan Dr. Destario Metusala.

Spesies baru anggrek D. sagin memiliki bunga yang berukuran cukup besar dengan rentang lebar antara 3-4 cm. Bunganya berwarna putih bersih dengan semburat kekuningan. Bibir bunganya yang kekuningan berbentuk obreniform dengan rambut-rambut tegak di bagian tengah helaian. Meskipun berbunga indah dan berwarna cerah, sayangnya masa mekar bunga anggrek D. sagin ini tidak bertahan lama, yaitu sekitar 1-2 hari saja. Nama epithet “sagin” diambil dari bahasa lokal suku Moi di Papua Barat yang memiliki arti “rambut”, yaitu merujuk pada tonjolan khas menyerupai rambut di bagian bibir bunganya. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal internasional Phytotaxa.

Irma Fauzia

https://akurat.co