Rahmah

Mengenal 3 Ulama Betawi Pengawal Kemerdekaan

Salah satu tokoh yang aktif dalam melawan penjajah adalah para ulama Betawi.


Mengenal 3 Ulama Betawi Pengawal Kemerdekaan
Ulama Betawi (senibudayabetawi.com)

AKURAT.CO Para ulama Indonesia di masa penjajahan Belanda banyak melakukan perlawanan demi mencapai kemerdekaan bangsanya. Salah satu tokoh yang aktif dalam melawan penjajah adalah para ulama Betawi.

Berikut adalah tiga ulama Betawi yang memiliki kontribusi untuk kemerdekaan sebagaimana dikutip dari laman senibudayabetawi.com.

KH Noer Ali

baca juga:

KH Noer Ali Bin H. Anwar bin H. Layu lahir pada tahun 1914 di Ujung Malang, Bekasi. KH. Noer Ali mengawali pendidikan agamanya kepada ayahnya sendiri, Guru Maksum. Juga kepada Guru Mughni. Sejak kecil jiwa kepemimpinannya sudah terlihat.

Sempat menempuh pendidikan di Arab Saudi, KH. Noer kembali ke Tanah Air pada 1940. Ia kemudian mendirikan pesantren. Selain aktif sebagai tokoh agama dengan wawasan agama yang mendalam, ia juga menjadi ancaman bagi Belanda karena kemampuannya mengordinir massa.

Noer pernah mengordinir pembangunan akses jalan secara besar–besaran antara kampung Ujung Malang, Teluk Pucung, dan Pondok Ungu yang dilakukan secara sukarela dan terselesaikan pada tahun 1941.

Kiai yang dikenal sebagai sosok religus juga nasionalis ini pernah menjadi Ketua Laskar Rakyat Bekasi, kemudian menjadi Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi.

Guru Mansur

Memiliki nama lengkap Muhammad Mansur bin Imam Abdul Hamid bin Imam Muhammad Damiri bin Imam Habib bin Abdul Mukhit alias Pangeran Tjokrodjojo (Cakrajaya) Tumenggung Mataram, ulama yang tinggal tinggal di kawasan Jembatan Lima ini memiliki semangat nasionalisme begitu tinggi.

Sumber: senibudayabetawi.com