Rahmah

Mengapa Terjadi Bencana, Begini Kabar dari Nabi

Alasan-alasan mengapa sering terjadi bencana menurut Islam


Mengapa Terjadi Bencana, Begini Kabar dari Nabi
Pantauan dari udara bencana banjir yang masih merendam sejumlah wilayah di Karawang, Jawa Barat (AKURAT.CO/Twitter/@BNPB_Indonesia)

AKURAT.CO Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Definisi di atas merupakan definisi yang dilontarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam pandangan Islam, semua apa yang terjadi di alam ini merupakan ketentuan Allah. Sudah tercatat di lauhul mahfuz. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

baca juga:

Artinya: “Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-an’am : 59)

Namun demikian, ketentuan hal-hal yang terjadi dak dicatat dalam lauhul mahfuz itu tetap dijelaskan oleh Nabi Muhammad. Bahwa, manusia tetap memiliki andi di dalamnya. Sebab dalam akidah Islam manusia memiliki usaha/kasb. Bencana yang terjadi di muka bumi juga didasari atas ulah manusia. 

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْوَاسِطِيُّ عَنْ الْمُسْتَلِمِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ رُمَيْحٍ الْجُذَامِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اتُّخِذَ الْفَيْءُ دُوَلًا وَالْأَمَانَةُ مَغْنَمًا وَالزَّكَاةُ مَغْرَمًا وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الدِّينِ وَأَطَاعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ وَعَقَّ أُمَّهُ وَأَدْنَى صَدِيقَهُ وَأَقْصَى أَبَاهُ وَظَهَرَتْ الْأَصْوَاتُ فِي الْمَسَاجِدِ وَسَادَ الْقَبِيلَةَ فَاسِقُهُمْ وَكَانَ زَعِيمُ الْقَوْمِ أَرْذَلَهُمْ وَأُكْرِمَ الرَّجُلُ مَخَافَةَ شَرِّهِ وَظَهَرَتْ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتْ الْخُمُورُ وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَوَّلَهَا فَلْيَرْتَقِبُوا عِنْدَ ذَلِكَ رِيحًا حَمْرَاءَ وَزَلْزَلَةً وَخَسْفًا وَمَسْخًا وَقَذْفًا وَآيَاتٍ تَتَابَعُ كَنِظَامٍ بَالٍ قُطِعَ سِلْكُهُ فَتَتَابَعَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Artinya: “Jika berkuasa, menguntungkan, amanat, ghanimah (rampasan) membayar zakat dianggap merugikan, belajar bukan karena agama (untuk mencapai tujuan duniawi saja), sesuai dengan yang diminta, durhaka untuk ibu, menaati kawan yang menyimpang dari keyakinan, membenci ayah, bersuara keras (menjerit-jerit) di masjid, orang fasih menjadi pemimpin bangsa, pemimpin bertemu golongan yang rendah akhlaknya, orang setuju karena takut pada kekerasan, para biduan dan musik (digali maksiat) digemari, minum keras atau narkoba samakin meluas, orang akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi, tabi’in dan para muktabar). Maka pergilah mereka pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa, longsor dan kemusnahan.” (HR. Tirmidzi no. 2137).

Melalui hadis di atas, sebab terjadi bencana karena banyak hal, baik yang bersifat materil maupun moril atau akhlak. Semoga dengan ini kita sadar untuk menjauhi hal-hal yang merugikan di atas agar tidak terjadi bencana kembali.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu