News

Mengapa Pembuatan Vaksin COVID-19 Oxford-Astrazenca Super Kilat? Ini Jawaban Ilmuwan Muda Indonesia 

Pekerjaan vaksin sepuluh tahun dicapai dalam waktu sekitar 10 bulan


Mengapa Pembuatan Vaksin COVID-19 Oxford-Astrazenca Super Kilat? Ini Jawaban Ilmuwan Muda Indonesia 
Dr.Carina Joe menjelaskan bahwa proses pengembangan hingga produksi vaksin Oxford-Astrazenca sudah sesuai dengan pedoman yang berlaku (JOHN CAIRNS/UNIVERSITY OF OXFORD)

AKURAT.CO, Sudah bukan rahasia umum lagi jika pengembangan vaksin memakan proses panjang dan kompleks. Karena melibatkan banyak pihak, termasuk publik hingga swasta, pengembangan dan produksi vaksin pun biasanya akan memakan waktu yang lama. 

Bahkan, seperti diungkap historyofvaccine.org, proses pengembangan sebuah vaksin seringkali bisa berlangsung hingga 10-15 tahun. 

Namun, pembuatan berbagai vaksin COVID-19, seperti  Pfizer, Sinovac, Johson& Johson, Sputnik V, hingga Oxford-Astrazenca tercatat hanya memakan waktu singkat. Pertanyaan inilah yang kerap muncul di benak masyarakat dunia dan seringkali menjadi alasan sejumlah warga takut untuk divaksin COVID-19.

Dalam liputannya, BBC misalnya, sempat membahas soal mengapa vaksin Oxford-Astrazenca bisa dikerjakan secara kilat. Bahkan, menurut BBC, produksi vaksin tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar 10 bulan.  Sementara diketahui, para ilmuwan terkait tidak melakukan pemotongan tahapan dalam pembuatan vaksin tersebut.

"Pekerjaan vaksin sepuluh tahun dicapai dalam waktu sekitar 10 bulan. Namun tidak ada sudut potong dalam merancang, menguji dan manufaktur,

"Itu adalah dua pernyataan yang terdengar seperti kontradiksi, dan telah membuat beberapa orang bertanya bagaimana kita bisa yakin bahwa vaksin Oxford - yang telah menerbitkan hasil pertamanya yang menunjukkan sangat efektif dalam menghentikan Covid-19 - aman ketika dibuat sedemikian cepat," tulis BBC dalam laporann yang bertajuk Vaksin Oxford: Bagaimana Mereka Membuatnya Begitu Cepat?".

Dalam liputannya itu, BBC kemudian menerangkan sejumlah alasan mengapa vaksin Oxford-Astrazenca bisa dibuat super kilat. Termasuk diantaranya soal perolehan biaya pembuatan yang mudah karena pandemi hingga pengembangan vaksin untuk 'penyakit X' sudah dilakukan sejak tahun-tahun sebelumnya. 

Dengan kata lain, pekerjaan vaksin COVID-19 dimulai ketika pandemi dimulai adalah pemahaman yang salah, dan ilmuwan terbukti tidak mengambil jalan pintas atau shortcut untuk mengembangkan vaksin. 

Hal inip un ikut diungkap oleh ilmuwan muda Indonesia yang ikut bergelut dalam pengembangan vaksin Oxford-Astrazenca, Dr Carina Joe.

Dalam acara bincang-bincangnya dengan Dubes Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia, Desra Percaya, Carina menekankan penjelasan serupa. Ia menegaskan bahwa pekerjaan pembuatan vaksin COVID-19 Oxford-Astrazenca telah melalui tahapan yang berlaku. 

Dijelaskan pula bagaimana dalam prosesnya, para ilmuwan tidak  mengambil 'shortcut' alias jalan pintas.  Menurut Carina, semuanya sudah sesuai dengan aturan dan semua sumber dan pendanaan mudah didapat, pembuatan vaksin bisa tercapai dengan cepat.

"Sebenarnya saya mengerti perasaan dari masyarakat, manusiawi sekali kan, karena vaksinnya dibuatnya cepat. Cuma 1,5 tahun sudah jadi. Tapi yang vaksin-vaksin sebelumnya butuh waktu 10 tahun untuk bisa diterima dan digunakan di masyarakat.

"Tapi yang saya jelaskan kepada masyarakat bahwa kita bukan ambil 'shortcut' atau jalan pintas (untuk pengembangan vaksin). Kita melakukan semua prosesnya 'by the book', sesuai dengan peraturan yang berlaku. 

"Kenapa bisa cepat karena kita melakukannya secara paralel. Jika vaksin-vaksin sebelumnya, mereka melakukannya step by step (secara bertahap). Pertama merekontruksi kemudian dapat funding lama, 3 tahun baru dapat, lalu clinical trial, lalu ke 'health regulator' (badan kesehatan). Jadi satu-satu.

"Kalau yang ini karena emergency darurat. Jadi semua resource (sumber) yang ada kita gunakan untuk membuat vaksin ini supaya pandemi cepet-cepet berakhir," kata Carina seraya menjelaskan bagaimana selama pembuatan, ia dan timnya bekerja tiap hari tanpa libur. 

Selain itu, Carina juga ikut menjawab soal kekhawatiran masyarakat tentang dugaan kasus langka dari efek samping 'tromboemboli' atau pembekuan darah dari vaksin Oxford-Astrazenca. Seperti diketahui, vaksin Oxford-Astrazenca sempat menjadi tajuk utama lantaran terkait dengan sejumlah kasus tromboemboli pada penerima vaksin tersebut.

Karena isu tersebut, pelaksaan vaksinasi Oxford-Astrazenca sempat ditangguhkan oleh sejumlah negara Eropa hingga Asia. Mereka antara lain Austria, Denmark, Norwegia, Islandia, Italia, Spanyol, Bulgaria, Italia, Thailand dan bahkan Indonesia.

Menanggapi isu itu, Carina pun memberikan penjelasan serupa seperti Badan Pengawas Obat Uni Eropa (EMA) pada Maret lalu. Saat itu, EMA  menegaskan bahwa pihaknya belum menemukan adanya indikasi jika vaksin Oxford-AstraZeneca mampu memicu pembekuan darah. EMA juga yakin bahwa manfaat suntikan Oxford-AstraZeneca jauh lebih besar daripada risiko efek sampingnya.

Carina juga menyampaikan bahwa kasus pembekuan darah itu baru terjadi saat peluncuran vaksin Oxford-AstraZeneca diluncurkan secara massal. Sementara diketahui, saat uji klinis, tidak ada kasus semacam itu.

"Iya (kasus) pembekuan darah itu ya. Ada (kasus). Tapi kasusnya sangat jarang, tapi kita tidak melihat kasus itu saat melakukan uji klinis. (Saat itu) Kita punya puluhan ribu pasien dan kita tidak melihat adanya blood cloth (pembekuan darah) ini. 

"Dan risikonya sangat jarang. Dari satu di antara satu juta orang...dan itu (kasus pembekuan darah) terkenal karena vaksin ini masih baru dan waktu awal-awal kita belum tahu siapa-siapa yang mungkin punya risiko lebih tinggi untuk terkena blood cloth ini.

"Dan sekarang, isu-isu ini sudah tidak ada lagi karena kita tahu pasien-pasien yang seharusnya tidak perlu atau tidak bisa menerima akses untuk vaksin AstraZeneca. Ataupun ada gejala-gejala pembekuan darah ini, kita tahu cara untuk menanggulangi supaya tidak terjadi (kejadian) fatal seperti dulu-dulu," kata Carina.

Carina lantas menambahkan bahwa sejatinya setiap obat atau vaksin memiliki efek samping. Bahkan, menurutnya paracetamol yang biasa digunakan untuk penurun demam dan pereda nyeri, bisa menyebabkan pembekuan darah. Namun, ia tetap digunakan untuk masyarakat luas karena manfaatnya. Karenanya dalam pelaksaan vaksin, dokter harus sudah mengantongi riwayat kesehatan pasien. 

"Paracetamol juga ada efek samping pembekuan darah, tapi itu tetap dipikir obat umum. Ini (isu efek samping pembekuan darah vaksin AstraZeneca) heboh karena itu baru. 

"Semua vaksin ada efek sampingnya, jadi dokter harus menentukan vaksin mana yang cocok untuk masing-masing individual," kata Carina.

"Tapi saya bilang, semua obat atau semua vaksin pasti ada efek sampingnya, dan tidak semua satu vaksin itu cocok untuk semua orang, dan kita harus menimbang risikonya. Risiko untuk kena COVID-19 atau risiko pembekuan darah ini lebih tinggi mana. 

Rekan Carina yang juga turut andil dalam riset pengembangan vaksin Oxford-AstraZeneca, Indra Rudiansyah juga mengungkap hal yang sama. Menurutnya, obat kemoterapi memiliki efek merusak sel tubuh, tetapi tetap digunakan karena manfaatnya yang lebih besar. 

"Ya betul kata Carina. Jadi semua obat itu, ada efek sampingnya dan juga benefitnya (manfaat). Tapi kenapa masih digunakan, contoh obat kemoterapi, kemoterapi itu sangat 'destructive' sekali buat tubuh. Tapi karena dasar benefitnya lebih tinggi daripada risikonya, akhirnya masih digunakan.

"Sama halnya dengan AstraZeneca juga. Kenapa di uji klinis kita tidak ada kasus bloodcloth. Padahal saat itu, kita sudah merekrut 20 ribu orang. Tapi pada saat mass-deployment (pelaksaan massal), itu baru muncul isu-isu seperti itu, yang kita sendiri awalnya belum tahu apakah itu berkorelasi dengan vaksin atau tidak. Artinya apa? Kalaupun iya berkorelasi, maka kejadian ini amat sangat jarang terjadi karena dengan jumlah voluenteer (relawan) yang puluhan ribu itu tidak terdeteksi, tetapi baru terdeteksi saat jutaan orang divaksinasi. 

"Artinya kita menangkap respons ini. Artinya kita harus meneliti lagi kenapa bisa terjadi seperti itu dan bisa mengindarinya ... Tapi laporan dari vaksin ini cukup baik karena bisa menangkap respons signal yang sangat jarang sehingga kita tahu cara penanggulangannya seperti apa," terang Indra saat ditanyai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo soal isu efek pembekuan darah pada vaksin Oxford-AstraZeneca. []