News

Mengapa Kopi Luwak Halal Meski Bercampur Kotoran Hewan? Begini Penjelasannya


Mengapa Kopi Luwak Halal Meski Bercampur Kotoran Hewan? Begini Penjelasannya
Ilustrasi (pixabay.com/andreaswegelin)

AKURAT.CO, Bagi para pencinta kopi di Indonesia, kopi luwak tentu saja sangat familiar. Kopi yang diklaim sebagai kopi termahal ini memiliki aroma yang khas dan rasa kopi yang kuat. Kopi luwak adalah kopi yang diseduh dengan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran hewan luwak atau musang kelapa.

Kopi ini berbeda dengan kopi lainnya karena telah melewati proses pencernaan dari luwak. Sebagai hewan pemakan biji-bijian, luwak memiliki indera penciuman tajam sehingga mampu membedakan mana biji kopi yang bagus dan benar-benar matang. Luwak juga hanya memakan daging dari kopi tersebut, sementara biji kopinya masuk ke dalam sistem pencernaannya.

Sistem pencernaan luwak terbilang sederhana, sehingga biji kopi tersebut tidak bisa dicerna hingga habis dan keluar bersama feses luwak. Biji kopi yang keluar bersamaan dengan feses ini kemudian dicuci, disangrai, dan ditumbuk untuk kemudian diseduh seperti kopi pada umumnya. 

Beberapa pakar kopi meyakini bahwa biji kopi tersebut telah difermentasi secara alami di dalam pencernaan luwak, sehingga memiliki aroma dan rasa yang unik dibandingkan dengan biji kopi lain.

Lantas, bagaimana hukum dari kopi luwak yang telah melalui pencernaan hewan ini dalam perspektif Islam? Meski menuai kontroversi dan banyak perdebatan, Komisi Fatwa MUI telah menetapkan bahwa kopi luwak ini halal dan aman untuk dikonsumsi.

Hal tersebut diterangkan dalam Ketetapan Fatwa No. 07 Tahun 2010 pada tanggal 20 Juli 2010. Ketetapan ini juga berkaitan dengan Kitab Al-Majmu' Jus 2 halaman 573, "Jika ada hewan memakan biji tumbuhan, kemudian dapat dikeluarkan dari perutnya, jika kondisinya masih tetap dan sekiranya jika ditanam dapat tumbuh, maka tetap suci. Akan tetapi harus disucikan bagian luarnya yang terkena najis."

MUI juga menerangkan bahwa najis yang terdapat pada biji kopi luwak ini termasuk dalam tingkatan najis mutawassithah atau najis pertengahan, bukan najis mughallazhahatau atau najis berat. Najis pertengahan ini dapat dihilangkan dengan mencuci benda yang terkena najis.

Pada proses pembuatan kopi luwak, terdapat proses pencucian setelah biji kopi dipungut dari feses luwak. Karena biji kopi yang memiliki kulit ari yang tebal, maka bagian dalam biji kopi tidak akan terkontaminasi oleh kotoran luwak. Oleh karenanya, dengan mencuci biji kopi tersebut makan najisnya akan hilang.

Saat ini, sudah ada beberapa kopi luwak yang sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI.[]