Olahraga

Mengapa Jamaika Punya Banyak Sprinter yang Merajai Dunia?

Di Olimpiade Tokyo 2020, Jamaika menyapu tiga medali nomor 100 meter putri di mana Elaine Thompson-Herah menjadi juara dengan memecahkan rekor olimpiade.


Mengapa Jamaika Punya Banyak Sprinter yang Merajai Dunia?
Pelari asal Jamaika, Elaine Thompson-Herah, ketika merayakan keberhasilannya menjuarai lari 100 meter putri Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, Jepang, Sabtu (31/7). (OLIMPIADE TOKYO 2020)

AKURAT.CO, Sprinter asal Jamaika, Usain Bolt, memang sudah tidak lagi bertanding di Olimpiade Tokyo 2020 karena memutuskan pensiun setelah Kejuaraan Dunia 2017. Namun, rekor dunianya masih tertinggal di sana dengan torehan 9,58 detik dan belum terpecahkan sampai saat ini.

Pun tanpa kehadiran Bolt, Jamaika masih menunjukkan dominasinya di lari jarak pendek. Setidaknya, di nomor 100 meter putri negara pulau kecil di Kepulauan Karibia tersebut menyapu tiga medali sekaligus.

Elaine Thompson Herah, Shelly-Ann Fraser-Pryce, dan Shericka Jackson adalah tiga nama teratas di final lari 100 meter putri di Stadion Nasional di Tokyo, Jepang, Sabtu (31/7). Bagi Elaine, ia sukses mempertahankan gelar sekaligus memecahkan rekor olimpiade dengan catatan waktu 10,61 detik.

Dominasi ini kemungkinan masih berlanjut di nomor sprint Olimpiade Tokyo karena Jamaika masih punya banyak pelari cepat hebat lainnya. Di nomor 100 meter putra, misalnya, ada juara dunia 2011, Yohan Blake, yang masih punya kesempatan untuk memecahkan rekor Bolt.

Tetapi, mengapa Jamaika begitu hebat di nomor lari jarak pendek dengan jumlah penduduk hanya 2,7 juta–seperseratus dari total penduduk Indonesia?

Tak ada teori yang pasti. Namun, salah satu dugaannya adalah kebiasaan wanita hamil di Jamaika mengonsumsi yam (kentang manis). Tanaman ini diduga membantu pertumbuhan serat otot kejut anak-anak yang lahir dari rahim mereka.

Dan teori yang paling umum diyakini adalah genetika. Financial Times menyebut studi pada 2010 menyatakan bahwa orang Jamaika memiliki bawaan keuntungan jantung di mana mereka punya aliran oksigen yang lebih cepat ke otot.

“Ditemukan bahwa frekuensi gen ini lebih tinggi di Jamaika ketimbang di Afrika Barat, yang cenderung lebih ketimbang orang Eropa,” tulis Financial Times.

Yang lain tentu saja adalah sistem dan kultur olahraga yang mendorong Jamaika menghasilkan pelari jarak pendek terbaik di planet bumi. Di negara tersebut, sprinter adalah megabintang ketimbang pemain sepakbola dan Jamaika punya kompetisi atletik tahunan untuk anak sekolah yang dikenal dengan nama “Champs”.

Meski cuma sekadar kejuaraan level pelajar, Champs digelar di stadion yang dipenuhi penonton dan dan disiarkan di televisi. Catatan waktu junior di Jamaika mungkin bisa menyaingi catatan waktu juara nasional di negara lain.

“Hanya karena kami punya sistem yang baik,” kata Usain Bolt pada 2016. “Anak lelaki dan perempuan di Champs terus memproduksi lebih dan lebih banyak atlet. Untuk tahun-tahun mendatang, kami akan punya para atlet hebat untuk menang.”[]