Lifestyle

Menengok Perjalanan Arsitektur Gereja Kayutangan, Pernah Ditabrak Pesawat

Gereja Kayutangan dibangun oleh arsitek antara tahun 1900-1915. Perancangan gereja ini dilakuka setelah menyelesaikan pembangunan Gereja Katedral, Jakarta


Menengok Perjalanan Arsitektur Gereja Kayutangan, Pernah Ditabrak Pesawat
Gereja Hati Kudus Yesus Kayoetangan atau Gereja Kayutangan merupakan gereja tertua di Malang (Instagram/indraiswanto84)

AKURAT.CO, Pada zaman kolonial Belanda, terdapat dua buah gereja Katolik besar di Malang, Jawa Timur. Pertama adalah Gereja Hati Kudus Yesus Kayoetangan / Gereja Kayutangan di Jl. Basuki Rachmad, Malang dan Gereja Santa Theresia  yang berada di Jalan Ijen, Malang.  

Sebelum Gereja Kayutangan dibangun, pada tahun 1897, umat Katolik di Malang menumpang pendopo Kabupaten Malang, sebagai tempat peribadatan. Delapan tahun kemudian, tepatnya pada 1905 barulah Gereja Kayutangan dibangun di utara alun-alun. Hal ini menjadikannya sebagai gereja Katolik tertua di Kota Malang.

Gereja ini termasuk golongan bangunan yang dibangun oleh arsitek antara tahun 1900-1915. Arsitek pendiri gereja tersebut, yaitu Marius J. Hulswit, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia. Hulswit (1862-1921) adalah salah seorang pelopor arsitektur modern di Indonesia sesudah tahun 1900. 

Dilansir dari laman Ngalam, Hulswit sebagai arsitek dari Gereja Kayutangan tersebut juga tercantum dalam tulisan batu marmer di gereja tersebut dalam bahasa Belanda, jika diterjemahkan adalah sebagai berikut: 

'Gereja ini dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus, didirikan berkat kemurahan hati dari Yang Mulia Monseigneur ES Luypen, dirancang oleh arsitek MJ. Hulswit dan semasa penggembalaan yang terhormat Romo GDA Joncbloet dan Romo FB. Meurs pada tahun 1905 telah diberkati oleh YM. Monseigneur Edmundus Sijbrandus Luypen, uskup Tituler dari Orope, Vikaris Apostolik dari Batavia.'

Perancangan gereja ini dikerjakannya setelah menyelesaikan pembangunan Gereja Katedral di Lapangan Banteng, Jakarta, pada tahun 1898 yang juga dirancang oleh Hulswit. Gereja Kayutangan memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu Neogothik yang memang sedang melanda banyak bangunan gereja di Eropa pada abad XIX, sama seperti Gereja Katedral. 

Ukuran gereja yang ada di Malang ini lebih kecil jika dibandingkan dengan yang ada di Jakarta. Sebab, disesuaikan dengan kota dan banyaknya umat Katolik di Malang saat itu. 

Memang, bentuknya memiliki ciri-ciri Neogothik yang kuat, meskipun tidak dapat dibandingkan dengan gereja-gereja Gothik yang megah di Eropa seperti Notre Dame di Paris atau Westminster Abbey di Inggris. 

Namun, di masa Hulswit, dua buah menara di sisi kanan kiri pintu utama gereja khas gereja neogothik, tidak bisa dibangung karena masalah biaya dan kesulitan konstruksi.

Baru pada tanggal 17 Desember 1930, kedua menara tersebut dibangun secara utuh dengan ketinggian 33 meter. Pembangunan dilakukan sesuai rencana arsitek Ir Albert Grunberg. 

Namun, menara tersebut tercatat pernah runtuh dua kali sejak dibangun 1930. Pertama, pada 10 Februari 1957 menara runtuh ketika sedang ada ibadah di dalam gereja. 

Pada kejadian pertama, menara runtuh karena sebuah salib di ujung menara runtuh, dan menimbulkan lubang besar pada atap gereja.

Kemudian kedua terjadi pada 27 November 1967, menara kembali runtuh akibat ditabrak sebuah pesawat TNI AU.

Meski menara gereja pernah runtuh, hingga saat ini Gereja Kayutangan masih kokoh berdiri menjadi ikon Kota Malang.

Namun altar yang sekarang ini bukan lagi yang didesain oleh arsitek aslinya. Altar lamanya sudah disingkirkan pada 1965. Saat ini, altar kayu yang dipakai merupakan altar kayu yang dipesan dari seorang tukang kayu keturunan China di Surabaya.

Bagi kamu yang kebetulan sedang berada di Malang, cobalah untuk mampir melihat keindahan arsitektur gereja tertua di Malang ini.

Bagi kamu yang beragama Katolik, kamu bisa melihat interior bagian dalam gereja neogothik ini, dan tentu beribadah di sana.[]