Rahmah

Meneladani Kisah Kilab bin Umayyah yang Sangat Berbakti Kepada Orangtua

Sepanjang hari, Sahabat Kilab selalu menyiapkan susu untuk ayah dan ibunya di pagi dan sore hari. Hal tersebut ia lakukan untuk berbakti kepada orang tua.


Meneladani Kisah Kilab bin Umayyah yang Sangat Berbakti Kepada Orangtua
Ilustrasi Sahabat Nabi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Sahabat Nabi itu bernama Kilab bin Umayyah bin Askar. Beliau memiliki dua orangtua yang sudah sangat tua. Sepanjang hari, beliau selalu menyiapkan susu untuk ayah dan ibunya di pagi dan sore hari.

Sampai pada suatu ketika, datanglah dua orang menemui Kilab, ternyata mereka datang untuk membujuknya untuk pergi berperang. Kilab sendiri merasa tertarik atas bujukan itu, dia langsung membeli seorang hamba sahaya untuk menggantikan posisinya dalam mengasuh kedua orangtuanya. Setelah itu, Kilab pun pergi menjadi seorang mujahid.

Pada suatu malam, ketika kedua orangtua Kilab sedang tidur, hamba sahaya itu datang dan membawakan gelas jatah susu petang hari kepada mereka. Kemudian hamba sahaya itu menunggu sebentar dan tidak membangunkannya, dia kemudian pergi meninggalkan kedua orangtua Kilab. Di tengah malam, keduanya terbangun dalam keadaan lapar, ayah Kilab berkata:

"Dua orang telah memohon kepada Kilab dengan kitabullah. Keduanya telah bersalah dan merugi. Kamu meninggalkan bapakmu yang kedua tangannya gemetar, dan ibumu tidak bisa minum dengan nikmat. Jika merpati itu bersuara di lembah Waj karena telur-telurnya, kedunya mengingat Kilab. Dia didatangi oleh dua orang yang membujuknya. Wahai hamba-hamba Allah, sungguh keduanya telah durhaka dan merugi. Aku memanggilnya lalu dia berpaling dengan menolak. Maka dia tidak berbuat yang benar. Sesungguhnya ketika kamu mencari pahala selain dari berbakti kepadaku, hal itu seperti pencari air yang memburu fatamorgana. Apakah ada kebaikan setelah menyia-nyiakan kedua orang tua? Demi bapak Kilab, perbuatannya tidak dibenarkan.”

Pada masa itu, ketika ada orang yang berasal dari Madinah dan datang ke kota Madinah, Umar bin Khattab RA selalu menanyakan tentang berita-berita dan keadaan mereka. Sahabat Umar bertanya kepada salah seorang yang datang: “Dari mana?” Orang itu kemudian menjawab: “Dari Thaif.” Umar bertanya: “Ada berita apa?” Orang itu menjawab kembali:  “Aku melihat seorang laki-laki berkata (laki-laki ini menyebut ucapan bapak Kilab di atas).” Sahabat Umar kemudian menangis dan berkata, “Sungguh Kilab mengambil langkah yang keliru.”

Kemudian ayah Kilab, Umaiyah bin Askar dengan penuntunnya menemui Sahabat Umar yang sedang berada di masjid. Dia mengatakan, “Aku dicela. Kamu telah mencelaku tiada batas, dan kamu tidak tahu penderitaan yang kurasakan. Jika kamu mencelaku, maka kembalikanlah Kilab manakala dia berangkat ke Irak. Pemuda mulia dalam kesulitan dan kemudahan, kokoh dan tangguh pada hari pertempuran. Tidak, demi bapakmu, cintaku kepadamu tidaklah usang. Begitu pula harapanku dan kerinduanku kepadamu. Seandainya kerinduan yang mendalam membelah hati, niscaya hatiku telah terbelah karena kerinduan kepadanya. Aku akan mengadukan al-Faruq (maksudnya Umar bin Khattab) kepada Tuhannya yang telah menggiring jamaah haji ke tanah berbatu hitam. Aku berdoa kepada Allah dengan berharap pahala dari-Nya di lembah Akhsyabain sampai air hujan mengalirinya. Sesungguhnya al-Faruq tidak memanggil Kilab untuk pulang kepada dua orang tua yang sedang kebingungan.”

Mendengar perkataan itu, Sahabat Umar menangis, lalu beliau menuliskan surat kepada Abu Musa al-Asy’ari agar dapat memulangkan Kilab ke Madinah. Abu Musa kemudian berkata kepada Kilab, “Temuilah Amirul Mukminin Umarbin Khattab.” Kilab menjawab, “Aku tidak melakukan kesalahan, tidak pula melindungi orang yang bersalah.” Abu Musa berkata, “Pergilah!”

Akhirnya Kilab pulang ke kota Madinah. Pada saat sahabat Umar bertemu dengannya, beliau mengatakan, “Sejauh mana kamu berbuat baik kepada orang tuamu?” Kilab pun menjawab, “Aku mementingkannya dengan mencukupi kebutuhannya. Jika aku hendak memerah susu untuknya, maka aku memilih onta betina yang paling gemuk, paling sehat dan paling banyak susunya. Aku mencuci puting susu onta itu, dan barulah aku memerah susunya lalu menghidangkannya kepada mereka.”

Sahabat Umar mengutus orang untuk menjemput ayahnya. Ayah Kilab datang dengan tertatih-tatih dan menunduk. Umar bertanya kepadanya, “Apa kabarmu, wahai Abu Kilab?” Dia menjawab, “Seperti yang Anda lihat wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Apakah kamu ada keperluan?” Dia menjawab, “Aku ingin melihat Kilab. Aku ingin mencium dan memeluknya sebelum aku mati.” Umar menangis dan berkata, “Keinginanmu akan tercapai Insya Allah.”

Kemudian Sahabat Umar memerintahkan Kilab untuk memerah susu onta yang kemudian diberikan kepada ayahnya seperti sebelumnya yang biasa dia lakukan. Sahabat Umar lalu menyodorkan gelas susu itu kepada ayah Kilab sembari berkata, “Minumlah ini, wahai bapak Kilab,” Ketika ayah Kilab sedang mendekatkan gelas ke mulutnya, dia berkata, “Demi Allah, aku mencium bau kedua tangan Kilab.” Sahabat Umar mengatakan, “Ini Kilab, dia ada di sini. Kami yang menyuruhnya pulang.” Bapak Kilab kemudian menangis dan Sahabat Umar beserta orang-orang yang hadir juga ikut menangis. Mereka berkata, "Wahai Kilab, temani kedua orang tuamu.” Sehingga Kilab tidak pernah lagi meninggalkan kedua orang tuanya sampai wafat. []