News

Mendikbudristek Nadiem: Mayoritas Orangtua Ingin Anaknya Jalani PTM

Nadiem Makarim mengungkapkan sekitar 80 persen orangtua siswa menginginkan PTM terbatas bagi anak-anaknya.


Mendikbudristek Nadiem: Mayoritas Orangtua Ingin Anaknya Jalani PTM
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim (Dok. Kemdikbud)

AKURAT.CO, Pemberlakuan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di tengah pandemi tak ayal menuai pro dan kontra. Ancaman learning loss atau hilangnya kesempatan belajar disebut jadi penyebab. Namun, pembelajaran tatap maya juga dinilai sebatas transfer knowladge saja.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim mengungkapkan sekitar 80 persen orangtua siswa menginginkan PTM terbatas bagi anak-anaknya. Itu artinya, banyak pihak yang menyadari untuk segera mengurangi dampak permanen dari krisis pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Namun perlu diingat, ungkap Nadiem, baru 55 persen sekolah yang saat ini membuka PTM terbatas.

“Orangtua adalah garda depan (pemenuhan) kesehatan dan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka harus berperan aktif agar sekolah disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes),” ujar Nadiem, sebagaimana dilansir laman Kemendikbudristek, Minggu (17/10/2021).

Tak cuma orangtua, peranan guru pun, kata Nadiem, dinilai sangat penting dalam suksesnya PTM terbatas dan menghadirkan layanan pendidikan yang aman dan nyaman.

“Berkat ketangguhan ibu dan bapak, kita telah berhasil melewati masa yang penuh tantangan. Saat ini telah mulai melaksanakan PTM terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat demi keselamatan semua warga sekolah,” terang Nadiem.

Mendikbudristek lantas mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pengabdian para guru Indonesia yang terus bergerak menghadirkan layanan pendidikan di tengah segala keterbatasan. “Terimakasih atas kerja keras dan dedikasi ibu dan bapak guru dalam mendidik anak-anak Indonesia menjadi Pelajar Pancasila yang cerdas dan berkarakter,” ucapnya.

Nadiem sadar betul, dampak negatif bila tak dilakukan PTM terbatas Nadiem. Menurutnya, ada sejumlah dampak negatif jika PJJ dilakukan terus menerus. Misalnya potensi leraning loss, hingga memburuknya kesehatan psikis anak-anak Indonesia yang semakin besar.

Itulah kenapa dirinya terus mendorong terselenggaranya PTM terbatas. Meski tentu kebijakan ini harus dilakukan dengan perhitungan matang. Misalnya satuan pendidikan perlu punya sarana dan prasarana yang memadai. Termasuk penerapan protokol kesehatan ketat untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 di sekolah.

“Kalangan anak-anak kemungkinan besar kehilangan antara 0,8 sampai 1,2 tahun pembelajaran. Jadi seolah-olah satu generasi kehilangan hampir setahuan pembelajaran di masa ini,” tukas Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim.[TIM]