News

Mendikbud Curhat ke MUI Soal Isu Terhapusnya Frasa Agama di Peta Jalan Pendidikan Nasional

Mendikbud Nadiem Curhat ke MUI Soal Isu Terhapusnya Frasa Agama di Peta Jalan Pendidikan Nasional


Mendikbud Curhat ke MUI Soal Isu Terhapusnya Frasa Agama di Peta Jalan Pendidikan Nasional
Mendikbud Nadiem Makarim bersama pengurus MUI pusat, Rabu sore (17/3/2021) (Tangkapan layar twiter MUI)

AKURAT.CO Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akhirnya menemui pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Kehadiran Nadiem itu untuk mengklarifikasi isu hilangnya frasa "Agama" dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional yang belakangan ini ramai dibicarakan.

Kehadiran Nadiem itu diterima Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Abdullah Jaidi.

Jaidi mengungkapkan pertemuan tersebut berlangsung Rabu (17/3/2021) sore di kantor MUI, Jakarta. Berdasarkan pengakuannya kepada pengurus MUI, Nadiem disebut-sebut sempat bingung dengan isu tersebut.

“Yang ramai di medsos itu ternyata tidak sesuai dengan peta jalan pendidikan Juli 2020. Makanya Pak Menteri begitu mendengar berita itu, Frasa agama bingung, Frase Agama yang mana lagi? wong itu sudah tertuang di draft baru. Draft yang lama memang tertulis karakter akhlak dan budaya, tetapi itu sudah diganti dengan sejak Juli 2020,” ujarnya di Jakarta, Rabu (17/03/2021) malam.

Draft peta jalan pendidikan pada Juli 2020 itu, lanjut Kiai Jaidi, sebetulnya sudah disampaikan juga ke Komisi X DPR RI. Sayangnya, dalam pertemuan Komisi X DPR RI bersama tokoh-tokoh agama pada Januari lalu, proses perubahan itu tidak disampaikan.

"Akibatnya, yang terbaca beberapa tokoh agama yang hadir pada pertemuan itu adalah hilangnya muatan agama di dalam konsep peta jalan pendidikan nasional 2020-2035," ungkapnya.

Berdasarkan klarifikasi Nadiem, lanjut Jaidi, diksi "Agama" memang tidak ada dalam konsep Juli 2020 itu.

Diksi agama dalam draft Juli lalu diganti dengan “Karakter dan Budaya”. Tetapi, kata dia, diksi itu sudah diganti lagi menjadi frasa “Iman dan Taqwa sesuai dengan Jiwa Manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan Pancasila”.

“Jadi, artinya muatan inti pelajaran agama itu berada pada sumber keimanan dan ketakwaan dan kepatuhan. Itu menjadi penjabaran ketaatan di dalam pembelajaran atau penyampaian materi keimanan dan ketakwaan sesuai dengan ajaran agama masing-masing,” ujarnya.