Ekonomi

Mendag Yakin Ekspor RI Tumbuh 4% pada 2021

Mendag Yakin Ekspor RI Tumbuh 4% pada 2021
Enam menteri baru yang masuk kabinet Indonesia Maju Tri Rismaharini, Sandiaga Salahuddin Uno, Budi Gunadi Sadikin, Yaqut Cholil Qoumas, Sakti Wahyu Trenggono, dan Muhammad Lutfi memberikan keterangan usai diumumkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (22/12/2020). (BPMI)

AKURAT.CO, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis kinerja ekspor Indonesia akan tumbuh 4% sepanjang 2021. Hal ini guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5-5,5%, sesuai target yang dipatok pemerintah.

"Saya berkeyakinan itu bakal terjadi karena ada yang disebut namanya supercycle daripada komoditi,” ungkap Mendag saat menggelar konferensi pers secara virtual di Jakarta, Jumat (19/3/2021).

Mendag menyampaikan, melihat perhitungan lembaga rating dunia, seperti IMF (Dana Moneter Internasional) dan OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) keduanya melakukan koreksi terhadap perekonomian dunia dengan menyebutkan angkanya akan naik.

baca juga:

“Kalau kita lihat daripada lembaga rating dunia terutama IMF, OECD memberikan update daripada perekonomian dunia, yang naik. Jadi, artinya dikoreksi tetapi bukan koreksi turun, tapi koreksinya naik,” ungkap Mendag.

Sedangkan, RI membidik perekonomian tumbuh 5-5,5% tahun ini, di mana untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, maka nilai ekspor harus tumbuh 4%, pertumbuhan impor tidak boleh lebih dari 2%, konsumsi rumah tangga harus naik 5%, dan investasi perlu tumbuh 13,7%.

Terkait hal tersebut, dari sisi perdagangan, Mendag menyampaikan dua hal yang bersinggungan langsung yakni ekspor dan impor. Meskipun kenaikan ekspor harus mencapai 4%, namun Kemendag merancang strategi agar ekspor tumbuh 6,3%.

Optimisme Mendag tersebut didukung oleh tren adanya supercycle komoditi, yakni komoditas yang harganya naik kencang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di antaranya harga minyak mentah, harga LNG, beras, iron ore, dan copper.

"Beberapa harga komoditas utama dunia mencatatkan rekor kenaikan sangat signifikan di 2020, yang memicu spekulasi adanya supercycle komoditi di tahun 2020-2021 yang diakibatkan oleh stimulus ekonomi di negara maju, nilai tukar dolar yang kian melemah, dan permintaan yang naik drastis di China dan negara industri di Asia,” tutup Mendag. []

Sumber: ANTARA

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu