News

Mendadak Datang ke St Petersburg, Pangeran Abdulaziz: Hubungan Arab Saudi dan Rusia Hangat!

Pangeran Abdulaziz bin Salman membuat kejutan dengan hadir di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, Rusia, meski tak resmi terdaftar.

Mendadak Datang ke St Petersburg, Pangeran Abdulaziz: Hubungan Arab Saudi dan Rusia Hangat!
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak dalam Forum Ekonomi Internasional di St Petersburg pada Kamis (16/6). (Arab News)

AKURAT.CO Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, membuat kejutan dengan hadir di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, Rusia, pada Kamis (16/6), meski tak resmi terdaftar. Setelah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak, ia menyatakan hubungan Arab Saudi dan Rusia sehangat cuaca di Riyadh.

Dilansir dari Arab News, Pangeran Abdulaziz bin Salman dan Novak berlangsung selama lebih dari 1 jam.

Menurut Novak, Rusia dapat terus bekerja sama dalam perjanjian produksi minyak OPEC+ bahkan setelah kesepakatan itu berakhir pada akhir tahun ini.

baca juga:

"Semuanya akan tergantung pada situasi pasar, apakah itu memerlukan kuota atau akan menjadi kerja sama berbasis piagam. Itu akan jelas pada akhir tahun," ungkapnya.

Novak mengatakan pertemuan itu penting dan para pejabat membahas harga minyak serta perkiraan keseimbangan.

"Kami melihat situasi saat ini (di pasar minyak global) seimbang, meski ada sejumlah ketidakpastian," jawabnya ketika ditanya apakah mitra OPEC+ mengeluh soal kekurangan produksi Rusia.

KTT ini digelar lantaran Rusia memompa lebih sedikit minyak daripada yang diminta oleh kuota OPEC+ saat ini. Pasalnya, sanksi Barat membuat sejumlah pembeli menolak atau menunda mengambil barel Rusia.

Produksi minyak mentah Rusia naik dari 9,159 juta barel per hari pada April menjadi 9,273 juta barel per hari pada Mei, menurut dokumen OPEC yang ditunjukkan pada Kamis (16/6). Novak pun berjanji untuk menambah lebih banyak lagi bulan depan lantaran Moskow menemukan permintaan yang kuat dari India dan China.

Namun, Rusia memproduksi 1,2 juta barel per hari lebih sedikit bulan lalu dari kuota 10,55 juta barel per hari yang diminta. Ini memicu spekulasi bahwa Moskow diduga diskors dari pakta tersebut. []