Ekonomi

Menakar Mata Pencaharian dari Kaca Mata Al-Muhasibi


Menakar Mata Pencaharian dari Kaca Mata Al-Muhasibi
Ilustrasi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Nama besar Al-Ghazali barangkali tak asing di telinga banyak orang. Namun tahukah Anda bahwa salah seorang yang memengaruhi pemikiran ulama sekaliber Al-Ghazali justru samar terdengar? Ia tak lain adalah Harits bin Asad Al-Muhasibi.

Tokoh muslim klasik ini telah menyumbangkan banyak pemikiran bagi peradaban. Sumbangsih pengetahuannya telah menjadi dasar bagi sejumlah konsep ilmu, tak terkecuali di lini ekonomi. Seolah tak lekang oleh waktu, buah pemikirannya  terus menjadi referensi bagi akademisi setelahnya bahkan hingga kini.

Lantas siapa sebenarnya Harits bin Asad Al-Muhasibi? Berikut sejumlah hal terkait kehidupan dan pemikiran ulama zuhud tersebut, yang Akurat.co himpun dari berbagai sumber:

1. Ulama Serbabisa


Al-Muhasibi dikenal sebagai sosok ulama yang alim dan serbabisa. Lahir di Basrah pada tahun 165 Hijriah atau 781 Masehi, ia merupakan pemuka sufi yang tutup usia pada umur 78 tahun. Tepatnya pada 242 Hijriah atau 895 Masehi di kota tempat dia bersinggah, Baghdad.

Figur yang mempunyai nama lengkap Abu Abdullah al-Harits bin Asad bin Ma’qil al-Hamdani al-Muhasibi tersebut selain dikenal sebagai seorang sufi, juga terkenal dengan kepakarannya di bidang ilmu fikih dan hadis.

2. Berguru Pada Banyak Tokoh Terkemuka

Tentu tak begitu saja keluasan ilmu yang di dapatkan Al-Muhasibi. Sebab, kepiawaiannya akan berbagai hal tak terlepas dari banyaknya sederet tokoh terkemuka yang ia jadikan guru setelah hijrah ke Kota Baghdad.

Di bidang fikih, misalnya, ia berguru kepada Imam Syafi’i, Abu Ubaid al-Qasimi bin Salam, dan Qadli Yusuf Abu Yusuf. Sementara untuk ilmu hadis dipelajarinya dari Syuraih bin Yunus, Yazid bin Haran, Abu an-Nadar, dan Suwaid bin Daud.

3. Resah dan Menemukan Titik Balik

Al-Muhasibi sempat resah melihat dinamika politik dan sosial yang berkembang pada masanya. Ragam pendapat yang dilontarkan oleh pendapat Mutazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah, dan Qadariyah mengundang rasa keprihatinannya.

Apa pasal? Berdasarkan pengamatannya atas kelompok itu, ia berkesimpulan, latar belakang yang mendasari sebagian besar kalangan itu bukan akhirat, melainkan kesombongan dan motivasi keduniaan. 

Berangkat dari titik tolak ini, al-Muhasibi memutuskan terjun ke dunia tasawuf dan memilih beruzlah dari keprofanan (keduniaan). Berbagai konsep dan teori dalam kajian dan praktik tasawuf banyak ditawarkan oleh al-Muhasibi.

Salah satunya adalah takut (al-khauf) dan pengharapan (raja’). Kedua teori itu merupakan pangkal penting untuk instropeksi. Dan, keduanya dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh kepada Alquran dan sunah, terutama memaknai dan meresapi ayat-ayat yang menegaskan janji dan ancaman.

Konsep khauf dan raja’-lah yang kemudian menjadikan al-Muhasibi banyak dikenal oleh para tokoh sufi di masanya, bahkan menjadi inspirasi berharga bagi para pencari hikmah yang hidup di masa berikutnya sebagai peninggalan tak ternilai dari seorang Al-Muhasibi.

4. Memilih Hidup Zuhud

Kezuhudan Al-Muhasibi mulai tercium sedari kecil. Konon bapaknya adalah seorang kaya-raya yang menganut aliran muktazilah. Ayahnya bukan hanya penganut aliran muktazilah yang pasif, bahkan termasuk salah seorang yang gigih mengkampanyekan pemikiran yang dikembangkan oleh muktazilah.

Namun, al-Muhasibi ternyata tidak seperti ayahnya, baik dalam masalah teologi maupun dalam sikapnya terhadap harta. Singkat kata, al-Muhasibi boleh dibilang terpisah jauh dari kehidupan sang ayah.

5. Pemikiran Ekonomi Al-Muhasibi

Al-Muhasibi menulis bahwa penarikan diri dari kegiatan ekonomi tidak sesuai dengan ajaran Islam yang benar. Yang harus dihindari adalah memperoleh laba dan upah dari perbuatan yang tidak dikehendaki Allah Swt.

Sebaliknya, seseorang  harus ikhlas dan terlibat dalam usaha dengan maksud membantu muslim lainnya. Ia mengecam orang yang tidak percaya pada hari Pengadilan dan bertentangan dengan syariah dalam kegiatan ekonominya.

Dalam bukunya, Al-Muhasibi membahas cara-cara memperoleh pendapatan sebagai mata pencaharian melalui perdagangan, industri dan kegiatan ekonomi produktif lainnya.

Ia menekankan sikap kejujuran pada setiap aktivitas ekonomi. Penekanan tentang perlunya kejujuran ini merupakan prinsip kegiatan-kegiatan ekonomi.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, seorang muslim dilarang melakukannya dengan cara yang dilarang atau bathil. Al-Muhasibi juga menekankan pentingnya kerjasama antar sesama muslim. []