Rahmah

Menag Yaqut Sebut Tiga Hal Ini Masih Jadi Problem Beragama

Menurut Menag Yaqut, setidaknya ada tiga problem mendasar yang menjadi persoalan bangsa Indonesia dalam kehidupan beragama.


Menag Yaqut Sebut Tiga Hal Ini Masih Jadi Problem Beragama
Deretan potret Menag Yaqut Cholil Qoumas di berbagai kegiatan (Instagram/gusyaqut)

AKURAT.CO  Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menilai saat ini sebagian dari masyarakat Indonesia memandang agama sebagai identitas bukan sebagai substansi. Artinya masyarakat menganggap agama hanya di permukaannya saja.

"Dia ngaku Islam, ngaku Kristen, Katholik dan seterusnya tetapi hanya ya sebatas pengakuan bahwa dia beragama," tuturnya dalam Podcast TV Show 'Suara Moderasi Beragama' yang disiarkan secara langsung melalui channel YouTube tvMu, Senin (11/10/2021).

Menag Yaqut mengatakan ketika agama hanya dianggap sebagai identitas saja, maka dalam prilakunya tidak muncul nilai-nilai agama. Padahal agama mengajarkan kebaikan, mengajarkan kasih sayang, mengajarkan saling menghormati satu sama lain. Dengan kata lain, agama tidak diinternalisasi dengan baik. 

Menag Yaqut berharap agar nilai-nilai agama menjadi spirit dalam bertindak. Karena agama merupakan inspirasi, bukan hanya sebagai aspirasi. Artinya agama tidak dijadikan sebagai alat untuk mencapai sebuah kekuasaan.

"Kita lihat beberapa tahun belakangan itu sudah ada momentum politik, agama dijadikan alat. Sehingga agama menjadi jauh dari nilai yang sebenarnya," ujar Menag Yaqut.

Padahal, lanjut Menag, agama adalah mempersatukan apapun yang berbeda. Akan tetapi sebaliknya, ketika agama dijadikan alat politik, maka agama dapat memecah belah persatuan.

"Agama sebagai inspirasi, saya harapkan menjadikan nilai-nilai kebenaran dalam agama menjadi subtansi dalam kehidupan bukan hanya sebagai identitas saja," ucap Menag Yaqut.

Menurut Menag Yaqut, setidaknya ada tiga problem mendasar yang menjadi persoalan bangsa Indonesia dalam kehidupan beragama.

Pertama, klaim bahwa seseorang merasa cara beragamanya yang paling benar. Sementara orang lain yang tidak sama dengannya, dianggap salah.

Kedua, seseorang yang merasa memiliki gairah keagamaan yang tinggi, tetapi tidak ingin mendalami agamanya. 

"Jadi mereka hanya mendapat pelajaran-pelajaran agama itu dari WhatsApp Grup misalnya, ya medsos-medsos tertentu," ujar Menag Yaqut.

Ketiga, ketika agama dijadikan sebagai alat politik. Karena agama merupakan alat yang paling mudah mengumpulkan orang.

"Tiga problem ini yang saya kira membuat situasi keberagamaan kita ini beberapa waktu terakhir menjadi tidak ideal," imbuh Menag Yaqut.

"Saya kira kita perlu sama-sama membebani keadaan seperti ini," pungkas Menag Yaqut. []