News

Menag Sebut Doktrin Ekstrimis Bisa Masuk Sekolah Lewat Guru Agama

Menag Sebut Doktrin Ekstrimis Bisa Masuk Sekolah Lewat Guru Agama


Menag Sebut Doktrin Ekstrimis Bisa Masuk Sekolah Lewat Guru Agama
Menteri Agama Jenderal Purnawirawan TNI Fachrul Razi saat akan dilantik menjadi menteri dalam pelantikan dan sumpah jabatan 34 menteri dan empat pejabat setingkat menteri di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2019). Presiden Jokowi melantik 34 menteri dan empat pejabat setingkat menteri yang masuk Kabinet jilid II dengan nama kabinet 'Indonesia Maju' (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Menteri Agama Fahrul Razi kembali mengingatkan potensi masuknya doktrin ekstrimisme ke sekolah agama.

Terutama lewat guru. Dimana, Guru, berpotensi jadi pintu masuk ekstrimisme di sekolah. Lewat transfer pengetahuan, ajaran ekstrimisme itu bisa menukar ke siswa dan sekolah.

Menag menjelaskan, ada tiga jalur masuk ajaran ekstrimisme masuk ke sekolah. Yakni guru, organisasi ekstra kurikuler, dan jalur kurikulum pendidikan agama.

Dia mengatakan, guru adalah pemegang peran terpenting dalam proses transformasi pengetahuan di sekolah. 

Jalur kedua adalah jalur organisasi ekstra kurikuler bidang keagamaan. Organisasi ekstra, kata dia , biasanya mengambil pola mentoring.

Dalam pelaksanaan pendidikan ekstrakurikuler itu melibatkan aktor yang memiliki ikatan atau jaringan dengan pemahaman keagamaan ekstrimis.

Ketiga, kata dia, jalur kurikulum pendidikan. Sebab, kurikulum sebagai acuan atau rujukan para guru dalam menyampaikan pemahamannya, termasuk kurikulum pendidikan agama. 

“Meski, tidak selalu pintu masuk pemikiran ekstrem ini melalui kurikulum pendidikan agama, karena bisa saja disisipkan melalui mata pelajaran umum,” ujar Menag.

Karena itu, sesuai kewenangannya, Kementerian Agama telah bekerjasama dengan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud dalam mereview kurikulum pendidikan agama. Saat ini, Kemenag telah menerbitkan 12 buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan muatan moderasi.