Rahmah

Menag Dukung Keputusan PBB: Islamofobia Harus Diperangi

Menag berharap, keputusan PBB dapat menjadi momentum bagi umat Islam, untuk berada di garda terdepan dalam mengatasi berbagai permasalahan dunia.


Menag Dukung Keputusan PBB: Islamofobia Harus Diperangi
Menteri Agama Yaqut Cholil saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII di Gedung Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (2/6/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal 15 Maret sebagai ‘Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia’. Ketetapan ini diterbitkan dalam Sidang Umum PBB yang berlangsung pada Selasa, 15 Maret 2022.

“Kemenag menyambut baik dan mendukung ketetapan PBB, tanggal 15 Maret dijadikan sebagai ‘Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia’. Segala bentuk Islamofobia memang harus diperangi,” tegas Menag Yaqut di Jakarta, Jumat (18/3/2022).

Menurut Menag, istilah Islamofobia sering dipahami sebagai gelombang prasangka, diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan muslim. Sehingga semua bentuk prasangka dan ketakutan yang dialamatkan kepada agama, harus diperangi. Mengingat, hal itu menjadi salah satu faktor yang mengancam kerukunan dan harmoni antarumat beragama.

baca juga:

“Segala bentuk gelombang ketakutan terhadap agama, harus diperangi,” tegas Menag.

Pada kesempatan ini, Menag berharap, keputusan PBB dapat menjadi momentum bagi umat Islam, untuk berada di garda terdepan dalam mengatasi berbagai permasalahan dunia. Umat Islam, kata Menag, harus dapat menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan prinsip Islam yang cinta damai. 

Begitu juga umat agama lainnya, lanjut Menag mengingatkan untuk menunjukkan sikap sesuai ajaran agamanya masing-masing yang tentu juga mengedepankan persaudaraan dan kedamaian.

"Penting bagi umat seluruh agama untuk memastikan bahwa kerukunan, perdamaian, dan harmoni adalah ajaran universal agama. Sudah semestinya semua bergerak bersama dalam menciptakan persaudaraan kemanusiaan, bukan perpecahan dan permusuhan,” terang Menag.

“Tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, apa pun motifnya. Memuliakan nilai kemanusiaan adalah esensi ajaran semua agama,” tambahnya.

Dengan begitu, kata dia, ikhtiar mewujudkan perdamaian dunia harus terus diupayakan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, pihaknya menyebut, kini tengah terus berupaya menjalin komunikasi dengan dua tokoh agama dunia, Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus. 

Menag Yaqut juga mengapresiasi inisiatif keduanya dalam mempromosikan nilai-nilai koeksistensi, toleransi, dan perdamaian yang dirinci dalam Dokumen Persaudaraan Manusia. Dalam dokumen ini ditandatangani bersama oleh Imam Besar Ahmed Al-Tayeb dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada Februari 2019.

“Kami masih mengupayakan kedua tokoh agama dunia itu bisa hadir di Indonesia untuk melihat kerukunan, harmoni, dan persaudaraan bangsa Indonesia yang sangat beragam ini,” tuturnya.

“Kami masih mencoba menjalin komunikasi, baik dengan Majelis Hukama Al-Muslimin di Abu Dhabi yang dipimpin oleh Grand Syekh Ahmed Al-Tayeb. Juga dengan pihak Al-Azhar karena beliau saat ini adalah Grand Syekh Al-Azhar. Komunikasi juga terus coba dijalin dengan pihak Gereja Vatikan,” pungkasnya. []