Ekonomi

Memprihatinkan, Pemerintah Harus Lakukan Ini Jika Ingin Petani Sawit Sejahtera!

para petani kelapa sawit skala kecil biasanya terpencar, sehingga adanya sertifikasi ISPO harusnya bisa membuat para petani tergabung dalam satu lembaga

Memprihatinkan,  Pemerintah Harus Lakukan Ini Jika Ingin Petani Sawit Sejahtera!
Petani kecil menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  di kawasan Candali, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/9/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit, Manselius Darto mengungkapkan para petani kelapa sawit skala kecil biasanya terpencar. Sehingga dengan adanya sertifikasi ISPO harusnya bisa membuat para petani tergabung dalam satu lembaga, agar mampu membantu meningkatkan kinerjanya.

“Terkait dengan ISPO seperti ini juga bahwa para petani sawit di daerah skala kecil mereka berpencar-pencar. Salah satu poin dari sertifikasi baik ISPO atau RSPO itu adalah bagaimana para petani skala kecil itu harus bisa terorganisir dalam satu kelembagaan petani. Penting ada road map yang jelas. Kelembagaan petaninya juga harus dibuat secara rapi,” ujar Darto lewat ketergannya, Kamis (21/10/2021).

Selain itu, Darto menganggap yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana ada kemitraan antara para petani kelapa sawit khususnya dengan korporasi. Kemitraan tersebut dirasa membuat petani kecil bisa lebih baik dalam mengolah perkebunan kelapa sawit.

baca juga:

Darto mengharapkan ada transformasi dalam pengelolaan kelapa sawit di Indonesia. Ia menegaskan perubahan tersebut harus berpihak ke para petani kecil.

“Penting untuk perbaikan di level pabrik, penting transformasi saat ini di mana petani menjual ke tengkulak rantai suplai terlalu panjang. Kemudian sistem ini perlu diubah agar ada kemitraan yang lebih baik dan di sini membutuhkan peran pihak perusahaan melakukan pemberdayaan bagi para petani sawit skala kecil di daerah,” terang Darto.

Lebih lanjut, Darto belum bisa memastikan para petani kelapa sawit saat ini sudah sejahtera atau belum. Menurutnya ada beberapa aspek yang harus dipenuhi agar petani sawit bisa sejahtera seperti dengan luas lahan yang dimiliki.

“Kalau mau petani sejahtera itu tergantung beberapa aspek, luas lahan, harga TBS tak boleh di bawah 1200 per kilo, terus harus memiliki lahan pangan. Jumlah anak 2 tapi di lapangan anak lebih 2 dan masih menanggung nenek juga dengan luas lahan kurang, terus butuh kemitraan lebih adil,” tutur Darto.

Tak hanya itu, masalah lainnya adalah sertifikasi ISO sulit diterapkan karena petani rakyat karakteristiknya berbeda-beda.

"Ada empat jenis petani kecil di Indonesia; pekebun skema (yang bermitra dengan perusahaan perkebunan dalam program transmigrasi), pekebun mandiri, pekebun kombinasi dan pekebun mandiri dimana mereka adalah pekebun skema yang juga memiliki kebun swadaya, dan pekebun swadaya (dibantu oleh pemerintah, koperasi, dll)," imbuhnya.