Rahmah

Membicarakan Orang yang Sudah Meninggal Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasan UAH

Membicarakan kejelekan orang yang sudah meninggal apakah termasuk dosa? 


Membicarakan Orang yang Sudah Meninggal Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasan UAH
Ustaz Adi Hidayat (Tangkapan Layar YouTube Adi Hidayat Official)

AKURAT.CO  Setiap manusia tentu mempunyai dosa. Sebab manusia merupakan tempatnya salah.

Disamping Allah SWT menciptakan manusia dengan kesempurnaan, juga terdapat kelemehan seperti sifat sombong iri kepada seseorang. Karena itu, tak jarang antara manusia satu dengan yang lain sering membicarakan kejelekannya atau  disebut Ghibah.

Kemudian timbul pertanyaan, jika pernah membicarakan kejelekan orang yang sudah meninggal apakah termasuk dosa? 

baca juga:

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Adi Hidayat atau yang lebih akrab disapa UAH menjelaskan, bagi manusia yang membicrakan kejelekan orang yang sudah meninggal, hendaknya berbegas memohon ampun kepada Allah SWT dengan cara beristighfar.

"Karena pada akhirnya, hakim yang tertinggi yang akan mengadili kita semua dalam hal berkehidupan adalah Allah SWT," kata UAH dalam video dari YouTube Adi Hidayat Official, diunggah 14 Mei 2022.

"Dengan kesucian niat kita untuk kembali kepada Allah SWT, mengoreksi diri, bisa jadi  itu yang sampai niatnya kepada Allah SWT. Sehingga muncul peluang dengan mengampuni dosa-dosa kita," sambungnya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 133:

وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ

Wa saari'uuu ilaa maghfiratim mir Rabbikum wa Jannatin arduhassamaawaatu wal ardu u'iddat lilmuttaqiin

Artinya: "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,".

Dalam ayat tersebut, menurut UAH, disebutkan bahwa seseorang hendaknya bergegas untuk mengoreksi diri. Selain itu, juga berharap sesuatu yang ideal ketika pulang untuk mendapatkan tempat yang baik.

"Seperti Anda di dunia nyaman, enak, tempat tinggal bagus. Jangan-jangan di akhirat nestapa," ucap UAH.

"Kata Allah SWT berharap mendapatkan tempat yang baik yang mulia di sisi Allah SWT berupa surga adalah untuk mereka yang takwa," imbuhnya.

Seperti firman Allah Surah Ali 'Imran ayat 134:

الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ‌ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ‌ۚ

Allaziina yunfiquuna fissarraaa'i waddarraaa'i wal kaazimiinal ghaiza wal aafiina 'anin-naas; wallaahu yuhibbul muhsiniin

Artinya: "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,".

"Orang takwa di sini, ternyata bukan yang meningkat ibadah spiritualnya, tetapi meningkat ibadah sosialnya seperti memiliki sifat memaafkan orang lain. Berusaha meminta maaf juga sifat yang tinggi sekali di hadapan Allah SWT," pungkas UAH. []