Rahmah

Memaknai Hubungan Agama-Agama Melalui Makna “Ad-Din”


Memaknai Hubungan Agama-Agama Melalui Makna “Ad-Din”
Moh. Subhi Ibrahim dalam Webinar Tafsir (AKURAT)

AKURAT.CO, “Memaknai Hubungan Antaragama di Dalam Al-Qur’an” Begitu tema yang diangkat dalam webinar pada Senin (17/08/2020). Program tersebut merupakan kerjasama antara Akuratco dan Akurat Poll. Dihadiri oleh ratusan peserta melalui Apliksi Zoom dan Instargarm serta Youtube Akuratco dan Akurat poll, program tersebut berjalan dengan lancer.

Salah satu narasumber pada webinar kali ini adalah Moh. Subhi Ibrahim, yang merupakan Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driarkara. Pada kesempatan tersebut, Subhi, panggilan beliau, memaparkan pandangan tentang agama (ad-din) dalam cara pandang tafsir sufi.

“Penafsiran dalam cara pandang sufi penting. Sebab, ketika kaum sufi bicara Al-Qur’an, mereka akan bicara dalam hubungannya dengan upaya tenggelam (istighraq) dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Pelenyapan (fana) yang diciptakan dalam Yang Tak Diciptakan, yang temporal dalam Yang Eternal, yang terbatas dalam Yang Tak Terbatas.” Kata Subhi.

Subhi juga menambahkan bahwa, bagi kaum sufi, Al-Qur’an merupakan gelombang pasang dan surut, yang mengalir pada mereka dari Tuhan, dan ayat-ayat itu akan membawa mereka kembali kepada Tuhan. Inilah alasan utama mengapa kaum sufi membaca Al-Qur’an.

Mengutip pendapat Sayyid Husein Nasr, ia menegaskan, “Nasr mengatakan bahwa menurut ahli tata bahasa Arab dan ahli tafsir Al-Qur’an kata al-din berasal dari kata dain yang berarti “hutang.” Dengan demikian, al-din bermakna proses pelunasan hutang manusia kepada Tuhan dan melibatkan seluruh proses kehidupan manusia. Konsekuensi dari pandangan tersebut adalah agama tidak terpisahkan dari eksistensi manusia bahkan melibatkan keseluruhan hidup manusia.”

Selanjutnya, lanjut Subhi, al-din diartikan sebagai agama. Dalam bahasa Inggris disebut religion, berasal dari kata religare yang berarti “mengikat.” Dalam arti ini, agama berarti sesuatu yang mengikat manusia dengan Tuhan. Setiap agama yang diwahyukan adalah the religion sekaligus a religion. The religion mengandung Kebenaran dan cara menggapai Kebenaran. Sedangkan A religion menekankan suatu aspek partikular dari Kebenaran yang terkait dengan kebutuhan spiritual dan psikologis kemanusiaan di mana agama tersebut dialamatkan.

“Semua agama memiliki; pertama, doktrin yang akan menuntun manusia membedakan antara Yang Absolut dan relatif, antara yang nyata secara absolut dan yang nyata secara relatif, serta antara nilai yang absolut dan nilai yang relatif. Dan kedua metode untuk mendekatkan diri kepada Yang Real serta hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya yang merupakan tujuan dan makna eksistensi manusia.” Tambahnya.

Halim juga menegaskan bahwa, perbedaan antar agama-agama hanya terletak pada penekanan suatu agama atas aspek tertentu dari hubungan tersebut. Namun dalam esensinya, dalam tiap agama terkandung kebenaran meskipun kebenaran tersebut dibatasi oleh bentuk agama itu. Karena itu, mengutip Nasr ia mengatakan, menjalani suatu agama secara penuh adalah sama dengan menjalani semua agama.[]