News

Memahami Perbedaan Sunah Muakad dan Sunah Ghairu Muakad Beserta Contohnya


 Memahami Perbedaan Sunah Muakad dan Sunah Ghairu Muakad Beserta Contohnya
Ilustrasi (freepik.com)

AKURAT.CO, Dalam praktik ibadah sehari-hari, kita tentu tidak asing lagi dengan istilah ibadah fardhu dan ibadah sunah.

Tetapi kali ini, kita akan lebih fokus membahas ibadah-ibadah yang hukumnya sunah.

Ibadah yang hukumnya sunah ini merupakan ibadah yang apabila dikerjakan mendapat pahala, sedangkan jika tidak dikerjakan tidak akan mendapat dosa.
Praktik ibadah sunah ini dibagi menjadi dua yaitu ibadah sunah muakad dan sunah ghairu muakad.

baca juga:

1. Sunah muakad

Menurut tinjauan ilmu ushul fiqh, sunah muakad merupakan amalan sunah yang dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan suatu ibadah wajib seperti azan, iqamah, dan salat fardhu berjemaah.

Sunah ini dianggap sebagai cara menyempurnakan suatu ibadah karena ketika kita mengerjakan ibadah fardhu, bisa saja ada bagian-bagian sunah yang tidak dikerjakan sehingga berkuranglah pahalanya.

Misalnya, ketika kita salat fardhu tidak membaca surah pendek, maka salat kita tetap sah tetapi tidak sempurna. Oleh sebab itu, dengan mengerjakan salat rawatib (sebelum dan sesudah salat), maka diharapkan pahalanya dapat melengkapi sunah membaca surah pendek yang ditinggalkan itu.

Lebih jauh lagi, sunah muakad dapat dipahami sebagai suatu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad saw. Hanya sekali atau dua kali saja Nabi saw meninggalkannya untuk menunjukkan kepada umatnya bahwa ibadah itu tidak wajib.

Sebagai contoh adalah berkumur ketika wudhu, menghirup air ke hidung ketika wudhu, dan salat dua rakaat sebelum subuh. Adapun nama lain dari sunah muakad ini adalah sunatul huda.

Selain itu, salat rawatib (qabliyah dan bakdiyah) termasuk salat sunah muakad. Sebagaimana yang dikatakan salah satu hadis dari Ibnu Umar ra dalam sahih Bukhari.

Dari Ibnu Umar ra ia berkata, "Aku menghafal dari Nabi saw 10 rakaat salat yakni, dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum subuh.”

2. Sunah ghairu muakad

Sementara sunah ghairu muakad merupakan ibadah atau amalan yang tidak terlalu ditekankan untuk dikerjakan.

Menurut keterangan ushul fiqh dikatakan bahwa sunah ghairu muakkad merupakan amalan Nabi saw yang tidak selalu dikerjakan setiap saat, akan tetapi hanya kadang-kadang saja beliau melaksanakannya dan kadang pula meninggalkannya.

Beberapa contoh di antaranya seperti salat qabliyah isya empat rakaat, puasa Senin Kamis setiap minggu dan lain-lain. (Lihat Tsuraya Mahmud Abdul Fattah [Muhadharat fi Ushulil Fiqih], halaman 82-83).

Begitulah perbedaan amal ibadah sunah yang dapat menambah serta menyempurnakan ibadah fardhu kita. Meski terasa berat, namun sebaiknya kita membiasakan diri agar menjadi terbiasa karena pahala yang menanti sangatlah besar. Wallahu a'lam.[]