Lifestyle

Anak Depresi, Perhatikan Tanda-tandanya!

Depresi pada anak dapat terjadi karena beberapa alasan. Untuk mengatasi hal ini, kamu perlu peka pada tanda-tanda depresi pada anak


Anak Depresi, Perhatikan Tanda-tandanya!
Ilustrasi - Depresi pada anak (FREEPIK)

AKURAT.CO, Depresi dapat mempengaruhi semua orang dari segala usia, termasuk anak-anak. Tidak boleh dianggap sepele, hal ini dapat menghambat perkembangan anak secara fisik dan mental. Melansir Very Well Mind, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan bahwa 3,2 persen anak-anak antara usia tiga dan 17 telah didiagnosis depresi. 

Depresi pada anak dapat terjadi karena beberapa alasan. Tidak ada satu pun sumber masalah yang diketahui. Beberapa anak cenderung mengalami depresi karena faktor genetik alias memiliki anggota keluarga lain yang mengalami depresi.

Beberapa anak mengalami peristiwa traumatis, mengalami kehilangan seseorang yang dikasihi hingga akibat kehidupan yang penuh tekanan. Ada pula anak yang mengalami depresi karena memiliki masalah kesehatan yang serius. Alkohol atau penggunaan narkoba dan lingkungan (termasuk masalah keluarga, bullying) juga rentan membuat anak terkena depresi.

Gejala depresi pada anak, bervariasi. Kondisi ini sering tidak terdiagnosis dan tidak diobati karena gejalanya dianggap sebagai perubahan emosional dan psikologis yang normal saja. Ya, terkadang sedih atau putus asa adalah bagian dari kehidupan setiap anak. Namun, ketika anak-anak merasakan kesedihan dan keputusasaan yang terus-menerus, dia mungkin memang depresi.

Berikut AKURAT.CO merangkum beberapa tanda atau gejala depresi pada anak: 

  • Sering merasa sedih, putus asa, atau mudah tersinggung.
  • Menarik diri dari kehidupan sosial.
  • Perubahan nafsu makan, baik meningkat atau menurun.
  • Menunjukkan perubahan pola tidur; tidur lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya.
  • Menunjukkan perubahan energi; sering lelah dan lesu atau tegang dan gelisah.
  • Pikiran atau konsentrasi terganggu.
  • Menjadi lebih sensitif terhadap penolakan.
  • Tidak merasa nyaman selama acara dan kegiatan di rumah atau dengan teman, di sekolah, selama kegiatan ekstrakurikuler, dan dengan hobi atau minat lain.
  • Keluhan fisik (seperti sakit perut dan sakit kepala) yang tidak merespon pengobatan. 
  • Merasa tidak berharga, tidak berguna, atau bersalah.
  • Menunjukkan perilaku melukai dan merusak diri sendiri atau bunuh diri.

Depresi yang ekstrem dapat membuat anak berpikir tentang bunuh diri atau berencana untuk bunuh diri. Untuk remaja usia 10-24 tahun, bunuh diri adalah salah satu penyebab utama kematian, menurut CDC. 

Tidak semua anak memiliki semua gejala ini. Faktanya, sebagian besar akan menunjukkan gejala yang berbeda pada waktu yang berbeda dan dalam pengaturan yang berbeda pula. Jadi, kamu harus selalu waspada dan peka terhadap segala perubahan pada anakmu.

Adapun gejala depresi tidak mungkin sembuh dengan sendirinya dan, jika tetap tidak diobati, dapat memburuk, atau menyebabkan masalah lain. Jika kamu berpikir bahwa anakmu mungkin mengalami depresi, konsultasikan dengan dokter, yang dapat mengevaluasi gejalanya, menyingkirkan penyakit medis yang mendasarinya, dan merekomendasikan perawatan yang tepat.

Depresi biasanya didiagnosis jika gejala berlangsung dua minggu atau lebih. Meskipun depresi adalah kondisi medis yang serius, biasanya dapat diobati.

Selain bantuan medis, kamu juga bisa membantu anak mengatasi perasaan depresi dengan beberapa langkah berikut ini. 

  • Selalu pantau suasana hati anak.
  • Dorong anak untuk berbicara dan mengungkapkan isi hati dan pikirannya.
  • Jangan pernah meremehkan perasaannya.
  • Berikan anak pengetahuan tentang depresi.
  • Ajarkan anak untuk berani meminta bantuan.
  • Perhatikan perilaku kamu di rumah.[]