News

Melki Golkar Ungkap Basis Massa Tiga Partai di KIB Tidak Sama

Melki Golkar Ungkap Basis Massa Tiga Partai di KIB Tidak Sama
Wakil Ketua Komisi IX Emanuel Melkiades Laka Lena menemui awak media di Jakarta Selatan, pada Jumat (15/7/2022) (AKURAT.CO/PETRUS C. VIANNEY)

AKURAT.CO, Ketua DPD Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan bahwa kantong massa yang dimiliki oleh Partai Golkar, PAN, dan PPP memiliki basis yang berbeda-beda satu sama lain. 

"Kita di masing-masing partai sama-sama mengisi kertas putih kosong itu, kerja sama menuju Pilpres, Pileg dan Pilkada," kata Melki Laka Lena dalam acara talkshow di Jakarta Selatan, pada Jumat (15/7/2022). 

"Ceruk pasar Golkar, PAN dan PPP itu tidak sama,” sambung dia. 

baca juga:

Di samping itu, kata Melki, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) akan membentuk tim untuk membahas mekanisme penentuan calon presiden yang akan diusung.

"Akan ada tim nanti yang ditugaskan oleh masing-masing ketua umum partai untuk duduk merumuskan berbagai hal tadi, termasuk bagaimana mekanisme kita membicarakan, menghadirkan capres cawapres dari KIB," ujar Wakil Ketua Komisi IX tersebut. 

Adapun, kata Melki, setiap partai yang tergabung dari KIB memiliki andalannya untuk memperebutkan posisi capres. 

Sebagai contoh, Melki menyebut partainya telah mengambil keputusan melalui Musyawarah Nasional 2019 dan Rapat Pimpinan Nasional 2021 yang menghasilkan Ketua Umum Airlangga Hartarto sebagai calon presiden pada 2024.

Pasalnya, KIB memiliki rancangan baru dalam mendesain peta politik menuju 2024. Kalau KIB diapresiasi positif, karena memang banyak manfaat dan keuntungan yang kita raih. 

"Nantinya kemudian dari semua hasil dari setiap partai ini pasti akan ada waktu di mana juga masing-masing partai akan duduk," urai Melki. 

Terakhir, dirinya menyebutkan bahwa pengurus ketiga partai dari tingkat atas hingga kalangan bawah pun telah menjalin komunikasi yang baik, termasuk membahas konsep maupun calon yang diusung.

"Waktu yang longgar ini membuat kami cukup waktu, di level atas membicarakan tentang bagaimana membangun konsepsinya, gagasan tentang power sharing misalnya, kemudian tentu menyepakati bagaimana kita mendesain capres cawapres," pungkas Melki.[]