Lifestyle

Melegenda, Ketahui Perayaan Cap Go Meh Di Pulau Kemaro

Ada kegiatan persembahan untuk sang legenda bernama Siti Fatimah dan Tang Bu An

Melegenda, Ketahui Perayaan Cap Go Meh Di Pulau Kemaro
Potert panggoda di Pulau Kemaro, Sulawesi Selatan (Instagram/Pesona Sriwijaya)

AKURAT.CO, Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yang terkenal di Sungai Musi, bahkan menjadi destinasi terkenal bagi kalangan tionghoa di Indonesia.

Pada setiap Tahun Baru Imlek, Pulau Kemaro mengadakan acara Cap Go Meh yang merupakan salah satu tradisi keturunan tionghoa, dipusatkan di Klenteng Hok Tjing Rio yang berada di Pulau Kemaro

Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro biasanya meliputi beragam kegiatan, termasuk kegiatan ibadah dan penerbangan lampion.

baca juga:

Bahkan ada juga, kegiatan-kegiatan persembahan untuk sang legenda Pulau Kemaro yang bernama Siti Fatimah.

Memang, Pulau Kemaro tidak dapat dipisahkan dari sosok kisah Siti Fatimah dan Tan Bun An.

Bahkan di depan Klenteng Hok Tjing Rio, terdapat gundukan yang dianggap makam dari mereka berdua.

Dikutip dari situs ibs.sumselprov.go.id, asal usul Pulau Kemaro ini yakni dari kisah legenda cinta Siti Fatimah dan Tan Bun An. Siti Fatimah dikisahkan sebagai keturunan Raja Sriwijaya yang menganut agama Islam.

Sedangkan Tan Bun An merupakan dari putra Raja Tionghoa yang menganut agama Buddha.

Meskipun mereka beda keyakinan dan etnis, tidak menjadi kendala bagi keduanya untuk merajut hubungan hingga ke jenjang pernikahan. 

Tan Bun An sempat memboyong sang pujaan hati ke negara asalnya untuk meminta restu dari orangtuanya kala itu.

Setelah merestui pernikahan sang anak, orangtua Tan Bun An lalu memberikan hadiah berupa tujuh guci besar yang berisi emas kepada sang anak dan menantu.

Setelah beberapa waktu, mereka kembali lagi ke Palembang. Sesampai di Palembang, Tan Bun An ingin melihat hadiah emas di dalam guci yang diberikan orangtuanya.

Namun, betapa terkejutnya Tan Bun An yang dilihatnya adalah sayuran sawi-sawi yang sudah membusuk. 

Tanpa pikir panjang, dia kemudian langsung membuang guci-guci tersebut ke Sungai Musi. 

Saat akan membuang guci terakhir ke Sungai Musi, guci itu terjatuh di atas dek dan pecah. Ternyata di dalamnya terdapat emas. 

Karena merasa bersalah telah membuang pemberian orangtuanya, Tan Bun An lalu terjun ke dalam Sungai Musi untuk mengambil emas tersebut. 

Melihat Tang Bun An terun ke Sungai Musi, seorang pengawalnya ikut terjun untuk membantunya, tetapi kedua orang itu tidak kunjung muncul. 

Dirundung gelisah, Siti Fatimah akhirnya memutuskan untuk ikut terjun menyusul Tan Bun An. Namun, sia juga tidak terlihat.

Beberapa waktu kemudian, dari tempat sejoli itu terjun muncul pulau kecil yang tak tenggelam saat Sungai Musi pasang sekali pun. 

Masyarakat mempercayai bahwa gundukan tanah yang tiba-tiba muncul di Klenteng Hok Tjing Rio, Pulau Kemaro adalah makam mereka.

Hal inilah legenda asal mula pulau seluas sekitar 180 hektar itu.

Nama Pulau Kemaro juga berasal dari kata ‘Kemarau’, karena pulau ini tidak pernah tenggelam atau terendam meskipun air Sungai Musi sedang pasang.

Jadi, apakah kalian tertarik berlibur di pulau sarat legenda pada perayaan Cap Go Meh kali ini?.[]