Lifestyle

Melalui Tokopedia, Pecel Ndeso Bawa Nostalgia Kuliner Tradisional ke Ruang Digital

Pesanan melalui akun Pecel Ndeso Yu Djasmo di Tokopedia rata-rata mencapai 50-60 order. Jika ditambah pesanan di akun Rasa Solo bisa 70 lebih.


Melalui Tokopedia, Pecel Ndeso Bawa Nostalgia Kuliner Tradisional ke Ruang Digital
Meski lazim ditemui dalam menu rumahan, sayuran rebus yang disiram bumbu wijen hitam dari Pecel Ndeso Yu Djasmo ini menjadi hidangan yang tak kalah special sebagai pecel Ndeso khas Solo. (DOK/Instagram @PecelNdesoYuDjasmo)

AKURAT.CO, Di era digital ini, penjual pecel Ndeso gendongan semakin langka ditemui di dunia nyata. Kondisi tersebut membuat Vivantri Mayawati (47) membawa nostalgia kuliner tradisional itu ke mal dan ranah digital melalui platform marketplace terbesar di Tanah Air Tokopedia. Seperti apa kisahnya?

Meski lazim ditemui dalam menu rumahan, sayuran rebus yang disiram bumbu wijen hitam dari Pecel Ndeso Yu Djasmo ini menjadi hidangan yang tak kalah special sebagai pecel Ndeso khas Solo. Nama Ndeso ini merujuk pada mbok-mbok penjual pecel yang menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki sambil menggendong tenggok atau bakul kecil dengan kain.

Vivantri sebagai Pemilik Pecel Ndeso Yu Djasmo ini memilih kuliner tersebut sebagai mata pencahariannya. Baik dengan membuka restoran di mal, maupun kedai di pinggir jalan, hingga menjual bumbu khas pecel Ndeso via marketplace seperti Tokopedia. “Saya tidak sengaja memulai bisnis,” katanya saat berbincang dengan media baru-baru ini.

Dia bercerita, awalnya diminta penyelenggara bazar di mal untuk menjual makanan tradisional. Tawaran itu disambutnya dengan menjual pecel Ndeso. Meski berupa pecel, bumbunya tidak menggunakan kacang tanah goreng yang ditumbuk. Kekhasan pecel Ndeso, ada pada wijen hitam yang digerus bersama bumbu.

“Sambal wijen ini cocok untuk diet karena kacang ada lemaknya, kalau wijen enggak ada. Wijen hitam gurih dan ada rasa autentiknya, beda dengan wijen putih,” tuturnya.

Hidangan ini kian khas dengan sajian nasi merah dan bumbu serundeng kelapa yang gurih. Sayuran rebus, seperti bunga pisang, bunga pepaya, dan petai cina berpadu dengan tambahan lauk lainnya seperti botok maupun bongko dari kacang tolo.

“Itu yang membedakan dengan pecel lain,” kata ibu tiga anak ini.

Saat mengenalkan pecel Ndeso di bazar mal, Vivantri mengaku sambutan masyarakat cukup positif. Hingga akhirnya, dia memutuskan membuka restoran pecel Ndeso di Solo Square Mal pada tahun 2016. Uniknya, banyak pelanggan yang hanya meminta bumbu pecelnya saja guna dibawa pulang atau sebagai oleh-oleh untuk diboyong keluar kota.

“Lama-lama pesanan bumbu pecel dari teman dan saudara kok banyak, lalu saya tekuni dengan kemasan lebih bagus, divakum, dan bisa lebih tahan lama,” kisahnya.

Resep bumbu pecelnya yang telah melewati proses trial and error ternyata bisa diterima di pasaran. Vivantri menyadari, untuk menjangkau pasar yang lebih luas, ia harus masuk ke pemasaran digital. Karena itu, tak hanya mengandalkan pemasaran via media sosial, ia juga membuka toko di marketplace Tokopedia sejak Oktober 2019.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Saat awal pandemi di tahun 2020 bisnis Vivantri terkena imbasnya. Penjualan mengalami penurunan.

Namun, kondisi ini tak bertahan lama. Pandemi yang memaksa orang untuk tetap di rumah saja justru meningkatkan pesanan bumbu pecel karena kepraktisannya. Penjualan di Tokopedia juga menolong lini bisnis lainnya yang terimbas pembatasan sosial.

“Setelah membuka gerai di Tokopedia, kok sambalnya malah laku. Makanya harus alih usaha, inovasi penjualan ke pemasaran digital, karena saat pandemi memang customer enggak bisa keluar rumah,” ujarnya.

Selama Agustus 2021, jumlah transaksi Pecel Ndeso Yu Djasmo meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama dua tahun yang lalu. Menurut Vivantri, Tokopedia menyumbang lebih dari 50% dari total penjualan online.

Peningkatan omzet penjualan juga diakui oleh Michael Anggawinarta, Program Director Rasa Solo, sebuah komunitas yang menjadi wadah bagi UMKM Solo termasuk Pecel Ndeso Yu Djasmo. Komunitas ini sangat terbantu dengan keberadaan Tokopedia.

“Selama ini, 100 persen penjualan Rasa Solo berasal dari Tokopedia. Bahkan, omzet Rasa Solo lewat Tokopedia mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Michael.

Berkat platform digital Tokopedia, kata dia, banyak UMKM Solo, seperti Batik Mahkota Laweyan, Onde-onde Njonja Moeda, Pecel Ndeso Yu Djasmo dan masih banyak lainnya, berhasil beradaptasi. “Mereka menjadi penggerak perekonomian daerah yang terdampak pandemi,” ucapnya tandas.

Sejauh ini, Pecel Ndeso Yu Djasmo bisa menjangkau pengiriman terjauh hingga ke pulau Kalimantan. Adapun pesanan terbanyak berasal dari Jakarta. Perjalanan usaha kuliner Vivantri makin berkembang kala bertemu dengan komunitas UMKM Rasa Solo.

Komunitas itu pula yang memberdayakan dan mempertemukannya dengan sejumlah pegiat usaha dari Solo. Rasa Solo resmi membuka toko online-nya di Tokopedia pada April 2021 lalu. Menurut Vivantri, bergabungnya Pecel Ndeso Yu Djasmo ke Rasa Solo semakin mengerek penjualan.

“Jika (penjualan) digabung dengan Rasa Solo, pesanan yang masuk lumayan banyak. Misalnya dari akun saya sendiri di Tokopedia hanya 50-60 order, kalau ditambah Rasa Solo bisa 70 lebih pesanan yang masuk. Dengan Rasa Solo, toko kecil saya juga menjadi lebih dikenal, saling menguntungkan lah,” papar Vivantri.

Apalagi dengan layanan pengiriman instan dengan Gojek, penjualan khususnya di Kota Solo juga makin melejit. Sebab, dalam hitungan menit hingga jam, pesanan bisa sampai ke tangan pembeli.

Rasa Solo adalah hasil kolaborasi Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta dengan Tokopedia. Lapak ini sekaligus dibuat demi mengobati rasa rindu para perantau akan kampung halamannya. Rasa Solo berada di bawah naungan program Surakarya sebagai wadah untuk mendukung UKM di Solo dalam jangka panjang.

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni mengatakan, kolaborasi Tokopedia bersama Pemkot Surakarta lewat kampanye Rasa Solo merupakan wujud komitmen perusahaan untuk #SelaluAdaSelaluBisa.

“Sekaligus membantu UMKM lokal beradaptasi dengan pandemi, melalui pemanfaatan teknologi, demi mempertahankan usaha dan menjaga ketersediaan lapangan pekerjaan,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi tersebut, pihaknya berharap dapat menginspirasi lebih banyak lagi UMKM lokal. Terutama untuk mengadopsi kanal digital dalam menjalankan usaha, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih bangga dan memakai produk buatan Indonesia.

Dia berharap, semua pihak dapat ikut mendorong pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi. []