News

Megawati Sebut Sumbar Sudah Beda, Legislator PAN: Itu Autokritik dari Putri Daerah

Guspardi Gaus: Apa yang disampaikan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri terkait kondisi Sumbar menjadi catatan penting bagi pemda dan tokoh-tokoh Sumbar.


Megawati Sebut Sumbar Sudah Beda, Legislator PAN: Itu Autokritik dari Putri Daerah
Anggota Komisi II fraksi PAN, Guspardi Gaus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). (Oktaviani)

AKURAT.CO, Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) asal Sumatera Barat, Guspardi Gaus meminta apa yang disampaikan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri terkait kondisi Sumatera Barat menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan tokoh-tokoh Sumbar baik yang ada di rantau ataupun di ranah Minang.

Karena menurut Guspardi, pernyataan Megawati soal kondisi Sumbar yang sudah berbeda merupakan bentuk kepedulian seorang putri daerah.

"Jadi boleh-boleh saja, tidak ada masalah, itu merupakan autokritik dari Bu Mega sebagai putri daerah," ujar anggota Komisi II DPR RI ini saat dihubungi AKURAT.CO, Jakarta, Jumat (13/8/2021).

"Kegelisahan, kegalauan serta keprihatinan beliau menyampaikan dalam rangka memeringati hari lahir Bung Hatta harus dimaknai dengan positif," sambungnya.

Guspardi melihat ada pesan yang tersirat di balik pernyataan Megawati. Semacam kerinduan untuk menginginkan agar ke depan tokoh-tokoh dari Minang tetap tampil dan berperan lebih menonjol di pentas nasional.

"Sebagaimana yang telah diperankan oleh para tokoh pejuang bersama ulama yang berasal dari Sumatera Barat sebelumnya dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan Indonesia," tuturnya.

Guspardi menyebut, banyak orang yang tidak memahaminya jika Megawati itu adalah orang Minangkabau. Dia menjelaskan, sang ibunda Megawati adalah Fatmawati seorang bangsawan yang berasal dari Pesisir Selatan, Sumbar.

Dia mengatakan, sistem kekeluargaan di Minangkabau adalah matrilineal. Kultural Minang menganut garis keturunan menurut ibu dan bukan menurut garis keturunan bapaknya (patrilineal).

"Jadi anak dari Ibu Mega itu berhak mendapatkan pusako tinggi seperti gelar dan jabatan Datuak sebagai kepala suku dan bukan gelar pemberian atau penghargaan. Begitu juga dengan anaknya Bu Puan Maharani pun berhak mendapatkan hak yang sama," ungkapnya.