News

Media Asing Soroti Pengerahan Tentara Indonesia dalam Penegakan Protokol 'New Normal'


Media Asing Soroti Pengerahan Tentara Indonesia dalam Penegakan Protokol 'New Normal'
Beberapa orang memakai masker sambil duduk menjaga jarak di dalam sebuah mal di Tangerang pada Selasa (26/5) (REUTERS)

AKURAT.CO, Penanganan COVID-19 di Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Media asal Inggris, Reuters, melaporkan dikerahkannya ratusan ribu tentara dan polisi pada Senin (25/5) untuk menegakkan protokol penggunaan masker dan menjaga jarak.

Dilansir dari Reuters, masyarakat Indonesia disebut masih sering mengabaikan protokol kesehatan meski jumlah penambahan kasus COVID-19 terus memuncak, mencapai total 22.750 kasus dengan 1.391 pasien meninggal dunia pada Selasa (26/5). Mulai kemarin (25/5), sekitar 340 ribu tentara akan dikerahkan di 3 provinsi untuk memastikan peralihan 'new normal' (kewajaran baru) di Tanah Air, menurut keterangan Panglima TNI Hadi Tjahjanto. Gugus tugas kepresidenan untuk memerangi COVID-19 mengatakan negara itu perlu beralih ke kewajaran baru dengan memakai masker, menjaga jarak, dan rajin cuci tangan untuk memerangi virus corona.

"Kami akan memantau warga untuk memastikan mereka memakai masker dan menjaga jarak yang aman dari orang lain. Kami ingin masyarakat dapat beraktivitas, tetapi tetap aman dari COVID-19," terang Hadi.

Mal dengan kapasitas 1.000 orang pun akan dibuka dengan hanya mengizinkan 500 orang di dalamnya.

Para tentara akan dikerahkan di jalan, mal, dan lokasi strategis lainnya di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Gorontalo, dan Sumatera Barat, dalam operasi gabungan antara TNI, polisi, dan pemerintah daerah. Keputusan ini diumumkan beberapa hari setelah masyarakat berbondong-bondong ke pasar dan mal untuk membeli baju baru menyambut Hari Raya Idulfitri.

Kerumunan di bandara Jakarta juga menyebabkan kegemparan di media sosial. Tak sedikit warganet yang mengkritik kejadian ini lantaran pengabaian protokol kesehatan bisa memberatkan beban petugas medis sebagai garda depan.

Sejak bulan Maret, para ahli kesehatan masyarakat telah mengecam pemerintah akibat respons terhadap virus corona yang dinilai terlambat. Sementara itu, dalam beberapa pekan terakhir, terjadi perubahan peraturan seputar pembatasan sosial, pekerjaan, dan perjalanan, sehingga mengakibatkan kebingungan di masyarakat.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu