News

Media Asing Soroti Lonjakan Kasus COVID-19 di Indonesia, Didominasi Varian Delta 

Indonesia memiliki keterbatasan dalam melacak penyebaran COVID-19.


Media Asing Soroti Lonjakan Kasus COVID-19 di Indonesia, Didominasi Varian Delta 
Ilustrasi pandemi COVID-19 (pixabay.com)

AKURAT.CO, Peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Indonesia terus menjadi sorotan publik. Bahkan, sejumlah media asing memberikan analisisnya terkait terus meningkatnya penyebaran COVID-19 ini. Salah satunya adalah Wall Street Journal. 

Dalam judul headlinenya, WSJ menuliskan ‘Meningkatnya kasus COVID-19 mengancam Indonesia dengan lonjakan yang mematikan, didominasi oleh varian Delta’. Selain itu, WSJ juga menyertakan sebuah potret yang memperlihatkan petugas kesehatan sedang menguburkan jenazah di pemakaman yang ada di Jakarta. 

Pemberitaan yang dirilis pada 18 Juni 2021 tersebut dimulai dengan adanya penemuan varian baru COVID-19 yang diklaim sangat mematikan di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk di Ibu Kota Jakarta. 

“Dokter di sana menyatakan bahwa rumah sakit mulai penuh, orang dengan usia yang lebih muda dilaporkan terinfeksi dan pasien banyak yang merasa sakit lebih cepat daripada wabah sebelumnya,” tulis WSJ. 

WSJ juga menuliskan bahwa observasi terkait varian Delta tersebut berawal dari India di mana virus tersebut pertama kali ditemukan. Selain itu, penemuan lain juga diketahui bersumber dari 70 negara lain, termasuk di Inggris. 

Sejumlah kota di Indonesia juga disorot oleh WSJ sebagai wilayah dengan kasus varian Delta terbanyak, beberapa di antaranya adalah Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. 

“Kudus mengalami salah satu lonjakan tercepat dari semua wilayah, dengan perhitungan mingguan dari kasus baru yang mencapai 35 kali lipat di akhir Mei lalu, meskipun dari basis yang sangat rendah,” tulis WSJ. 

Indonesia diketahui memiliki kapasitas yang terbatas untuk melacak persebaran varian virus tersebut, yang membuatnya lebih susah untuk mengetahui seberapa luas varian Delta telah tersebar. Sejumlah ahli medis juga menyatakan bahwa jika lonjakan tersebut terus berlangsung, maka dapat mengganggu sistem kesehatan nasional. 

“Sangat jelas bahwa Indonesia dapat menjadi negara lain yang akan menghadapi kasus Tsunami COVID-19,” jelas Dicky Budiman, seorang epidemologis dari Universitas Griffith, Australia. 

WSJ juga menyoroti terkait vaksinasi yang ada di Indonesia. Kurang dari 5 persen penduduk Indonesia telah divaksinasi. Terkait hal ini, WHO juga telah memberikan peringatan terkait meningkatnya transmisi varian COVID-19 ini. 

Menteri Kesehaan Indonesia menyatakan bahwa gelombang baru ini disebabkan oleh selebrasi perayaan dan pulang kampung yang terjadi pada liburan Hari Raya Idulfitri lalu. Namun, fakta bahwa varian baru juga menjadi faktor meningkatnya kasus ini membuat sejumlah epidemologis mendorong pemerintah untuk segera melakukan penelitian lanjutan. 

“Keadaan berbeda sebulan yang lalu. Wilayah Kudus telah mengalami penurunan kasus dari puncaknya yang terjadi pada Januari 2021 lalu dan sejumlah penduduk telah melakukan silaturahmi di rumah kerabat ketika perayaan Hari Raya Idulfitri,” tulis WSJ. 

Kemudian, datanglah lonjakan tersebut, di mana jumlah kasus terinfeksi langsung naik hingga membuat rumah sakit menambah jumlah ruang isolasi. Bahkan, 400 nakes dilaporkan telah terinfeksi selama satu bulan terakhir. Bahkan, hingga minggu kedua bulan Juni, laporan mingguan kasus COVID-19 menyatakan bahwa 20 orang meninggal tiap minggunya. 

WSJ juga menyoroti pernyataan sejumlah dokter di mana kekhawatiran justru timbul dari lebih banyaknya orang usia muda yang terinfeksi dan kondisi pasien yang semakin cepat sakit dari wabah sebelumnya. 

“Perbedaan pertama adalah varian tersebut tidak mengenal umur. Apakah kamu muda atau tua atau memiliki komorbid, kamu bisa saja terinfeksi,” jelas Dr. Catur Budi Keswardiono, seorang spesial jantung di Bangkalan. 

Secara keseluruhan, Indonesia kini melaporkan rata-rata 10 ribu kasus baru setiap harinya dalam seminggu ini, meningkat 5 ribu kasus dari Mei 2021 lalu. Sedangkan sepertiga dari tes PCR yang telah dilakukan dalam tujuh hari terakhir dilaporkan positif dan sejumlah infeksi juga masih tidak terdeteksi. 

Meski begitu, laporan tersebut masih jauh di bawah data pada puncak penyebaran COVID-19 yang terjadi pada Januari 2021 lalu, di mana 3.900 orang meninggal dunia dalam dua minggu. Dalam dua minggu awal Juni ini, sekitar 2,750 orang meninggal dunia akibat COVID-19 di Indonesia, sekitar 2,200 lebih banyak dari dua minggu di awal Mei. 

Di Bangkalan, di mana varian Delta menyebar, sejumlah rumah sakit telah kehabisan ruang isolasi. Sedangkan di Jakarta, tingkat okupansi atau keterisian rumah sakit telah mencapai 75 persen di minggu ini, atau 45 persen lebih banyak dari minggu lalu. 

Selain itu, beban juga dirasakan oleh nakes, di mana di rumah sakit Kudus ditemukan sekitar 400 pekerja medis telah terinfeksi meski sebelumnya telah divaksin Sinovac. Sedangkan di Bangkalan, sekitar 50 nakes juga terinfeksi COVID-19 yang sebelumnya sempat mendapatkan vaksin Sinovac. []