News

Media Asing Soroti Latihan Militer Bersama Indonesia-AS, China Tuduh Dibentuknya 'NATO' Indo-Pasifik

Al Jazeera menyebut Super Garuda Shield sebagai pertanda menguatnya hubungan Indonesia-AS di tengah gencarnya aktivitas maritim China di Indo-Pasifik.


Media Asing Soroti Latihan Militer Bersama Indonesia-AS, China Tuduh Dibentuknya 'NATO' Indo-Pasifik
Super Garuda Shield 2022 diikuti oleh lebih dari 5 ribu tentara dari 14 negara dan akan berlangsung hingga 14 Agustus di Baturaja, Sumatra Selatan. (ANTARA via REUTERS)

AKURAT.CO Lebih dari 5 ribu tentara dari Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan negara lainnya memulai latihan tempur bersama di Pulau Sumatra. Agenda ini ikut menuai perhatian dunia dengan diwartakan oleh berbagai media internasional. Dalam laporannya pada Rabu (3/8), Al Jazeera bahkan menyebutnya sebagai pertanda menguatnya hubungan di tengah gencarnya aktivitas maritim China di kawasan Indo-Pasifik.

Dilansir dari Al Jazeera, pelatihan militer bertajuk 'Garuda Shield' ini diadakan setiap tahun sejak 2009. Namun, pada tahun ini, sejumlah negara lain ikut berpartisipasi, seperti Australia dan Jepang, sehingga menjadikannya yang terbesar yang pernah ada. Namanya pun menjadi 'Super Garuda Shield' untuk tahun ini.

Dimulai pada Rabu (3/8), latihan bersama tersebut dirancang untuk memperkuat interoperabilitas, kemampuan, kepercayaan, dan kerja sama dalam mendukung Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

baca juga:

"Ini menjadi simbol ikatan AS-Indonesia dan hubungan yang berkembang antara pasukan darat di wilayah yang penting ini. Pasalnya, pasukan darat adalah perekat yang menyatukan arsitektur keamanan kawasan," kata Charles Flynn, komandan jenderal Angkatan Darat AS untuk Pasifik.

Flynn dan Panglima Jenderal TNI Andika Perkasa membuka latihan bersama ini dengan upacara pada Rabu (3/8) di Baturaja, Sumatra Selatan. Berlangsung hingga 14 Agustus, latihan tersebut meliputi latihan angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara.

Menurut Jessica Washington dari Al Jazeera yang melaporkan dari Baturaja, latihan tahun ini menandai perubahan penting dari latihan sebelumnya.

"Dulu hanya latihan bilateral, tapi sekarang kita melihat gerakan mengarah ke multilateralisme yang melibatkan negara lain yang tak hanya sebagai pengamat, tapi juga sebagai peserta," komentar Washington.

Sementara itu, sehari sebelumnya, Kementerian Pertahanan China mengatakan akan melakukan serangkaian operasi militer guna 'menjaga kedaulatan nasional'. Tindakan itu merupakan tanggapan atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri, tetapi diklaim China sebagai wilayahnya dan akan dicaplok secara paksa jika perlu.

China juga semakin tegas atas klaimnya terhadap hampir seluruh Laut China Selatan.

"Jenderal Flynn menggarisbawahi bahwa latihan ini berlangsung di wilayah yang paling penting pada waktu yang paling krusial. Meski telah menjadi 'Super' Garuda Shield pada saat ini, mereka berharap agenda ini akan lebih signifikan di masa depan," tambah Washington.

Menurut ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal AS Mark Milley, jumlah cegatan oleh pesawat dan kapal China di kawasan Pasifik terhadap AS dan pasukan mitra lainnya telah naik drastis selama 5 tahun terakhir. Jumlah interaksi yang tak aman pun bertambah dengan proporsi serupa.

"Pesannya, militer China di udara dan di laut telah menjadi jauh lebih agresif  di wilayah ini," ungkap Milley bulan lalu selama kunjungannya ke Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.

Milley mengakui Indonesia sangat penting secara strategis bagi kawasan ini dan telah lama menjadi mitra utama AS. Awal tahun ini, AS menyetujui penjualan jet tempur canggih senilai USD 13,9 miliar (Rp207 triliun) ke Indonesia. Selain itu, pada Desember lalu, Menteri Luar Negeri Antony Blinken menandatangani perjanjian untuk meningkatkan latihan angkatan laut bersama antara AS dan Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia dan China menikmati hubungan yang umumnya positif. Namun, pemerintah RI telah menyatakan keprihatinannya soal penjarahan China di zona ekonomi eksklusif Indonesia di Laut China Selatan. Sebaliknya, China mengeklaim hampir seluruh perairan itu.

Karena tadinya bilateral dan kini diikuti 14 negara, Super Garuda Shield dipandang China sebagai ancaman. Media pemerintah China menuduh AS sedang membangun aliansi Indo-Pasifik yang mirip NATO sebagai sarana untuk memprovokasi konflik dengan sengaja. []