News

Maut di Pesta Pernikahan Bangladesh, 17 Tamu Meninggal Usai Disambar Petir

Insiden bermula ketika pengantin pria dan tamu lainnya terjebak dalam badai petir di tengah perjalanan laut menuju rumah pengantin wanita.


Maut di Pesta Pernikahan Bangladesh, 17 Tamu Meninggal Usai Disambar Petir
Pengantin pria termasuk di antara mereka yang terluka oleh sambaran petir, sementara pengantin wanita selamat karena tidak ikut dalam rombongan (AP: Md Jahangir Alom)

AKURAT.CO, Sedikitnya 17 orang meninggal dunia dan lusinan lainnya terluka setelah petir menyambar para tamu pesta pernikahan di atas kapal di barat laut Bangladesh, Rabu (4/8) waktu setempat.

Sebagaimana diungkap oleh petugas polisi Farid Hossain, insiden bermula ketika pengantin pria dan tamu lainnya sedang berada dalam perjalanan menuju rumah pengantin wanita. Saat perjalanan itulah, mereka terjebak dalam badai petir. Rombongan pengantin kemudian memutuskan turun dari kapal untuk berlindung. Nahas, saat keluar dari kapal dan turun di tepi Sungai Padma di Kota Shibganj, rombongan justru disambar petir. 

Sejauh ini, 17 orang telah dikonfirmasi meninggal. Sementara yang terluka mencapai 14 orang, termasuk pengantin pria. Mereka yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. 

"Kami mendapat informasi 17 orang meninggal dan beberapa lainnya dirawat di rumah sakit," kata Hossain seperti dikutip dari ABC Net. 

Baca Juga: Tragis! 11 Wisatawan Tewas Tersambar Petir di India saat Asyik Swafoto

Petir membunuh ratusan orang setiap tahun di Bangladesh.  Negara itu juga sudah menyatakan sambaran petir sebagai bencana alam pada tahun 2016. Itu terjadi terutama saat bulan Mei 2016, Bangladesh membukukan lebih dari 200 orang tewas akibat sambaran petir. Di antara kasus termasuk 82 orang meninggal dalam satu hari.

Kebanyakan kematian petir biasanya terjadi selama bulan-bulan hangat Maret hingga Juli.

Para ahli mengatakan peningkatan sambaran petir yang fatal terkait dengan penggundulan hutan. Mengingat, deforestasi telah menyebabkan hilangnya banyak pohon tinggi yang berfungsi menarik sambaran petir dan secara tidak langsung melindungi manusia.

Polusi udara dan pemanasan global juga berkontribusi pada peningkatan frekuensi sambaran petir di negara itu, kata para ahli.[]