Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta
News

Matinya Reformasi


Matinya Reformasi
Para mantan aktivis '98 memanjatkan doa serta menaburkan bunga ke makam pahlawan reformasi di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu(12/5/2019). Puluhan eks aktivis '98 melakukan ziarah ke makam pahlawan reformasi Elang Mulya Lesmana dan Hery Hartanto saat memperingati 21 tahun mengenang Tragedi Trisakti 1998. Dalam ziarah ini hadir sejumlah tokoh seperti Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, Ketua DPP Partai Hanura Benny Ramdhani, politis PDIP Adian Napitupulu, hingga Ketua S (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Kamis (21/5/2020) pagi, saya menjadi narasumber diskusi online (webiner), dalam rangka Milad Jurusan Hukum Tata Negara (Siyasah) UIN Bandung. Tema diskusi tentang, demokrasi di masa pandemi. Betulkah kita masih berdemokrasi. Ataukah justru demokrasi telah mati.  

Reformasi politik tahun 1998, telah memberi harapan akan lahirnya sistem demokrasi, dalam pengelolaan negara. Menjadi “obsesi” dan harapan semua warga negara, agar bisa hidup lebih baik dan sejahtera, pasca tumbangnya kekuasaan Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan Soeharto.

Orba yang diangap korup. Dan menjalankan pemerintahan yang otoriter. Telah dijebol dan ditumbangkan, oleh kekuatan mahasiswa dan rakyat Indonesia. Tanggal 21 Mei 1998 merupakan hari yang penuh harapan. Karena Orba jatuh. Dan reformasi bangkit berseri.

Hari ini, 22 tahun yang lalu. Reformasi menjadi cita-cita berama seluruh rakyat Indonesia. Namun, saat ini juga, setelah 22 tahun berjalan, reformasi tak lagi bergema, tak disuarakan, tak bergerak, dan tak menjadi bagian dari skenario elite, dalam menata bangsa.

Hari ini, reformasi sudah dikebiri, sudah bukan lagi menjadi isu sexi, dan reformasi dianggap sudah mati. Demokratisasi sebagai bagian dari tuntutan reformasi, juga sudah disumbat, dibonsai, dan diikat, sehingga demokrasi berjalan tanpa arah.  

Demokrasi hanya jadi pajangan, dalam etalase perpolitikan di republik ini. Kita seolah-olah berdemokrasi. Padahal sesungguhnya, kita sedang melanggengkan otoritarianisme. Dan seolah-olah kita berdemokrasi. Padahal kita sedang melanggengkan, oligarki dan politik dinasti.

Demokrasi saat ini, sedang ada dalam bayang-bayang otoritarianisme. Demokrasi sengaja dikebiri, agar mati. Reformasi juga disingkirkan, agar tak jalan. Demokrasi kita demokrasi yang kosong. Reformasi kita juga reformasi yang pura-pura.

Saat ini, kita sedang terlena dengan demokrasi, yang tidak mementingkan isi. Dan hanya mementingkan cangkang. Juga hanya mementingkan prosedur. Demokrasinya ada. Tapi tanpa roh. Sesuatu yang tanpa roh, tak akan menggerakan dan mencerahkan.

Prosedur demokrasi memang dijalani oleh bangsa ini. Pilkada dilaksanakan. Pileg dan Pilpres juga diadakan. Tapi masih sebatas prosedural semata. Dan demokrasi prosedural yang sedang kita jalani ini, jauh dari nilai-nilai demokrasi.

Prosedur Pilkada dan Pemilu dijalankan. Tapi tidak menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Tidak menghasilkan pemimpin yang berkarakter. Karena Pilkada dan Pemilunya, banyak diwarnai politik uang dan kecurangan-kecurangan lainnya.

Bagaimana kita akan bisa meningkatkan derajat demokrasi, ke arah demokrasi yang substantif, yang memprioritaskan isi. Yang berdemokrasi untuk bisa mensejahterakan rakyat. Yang berdemokrasi untuk menata dan mengelola negara dengan baik. Jika secara prosedur saja, demokrasi di negara ini masih acak-acakan.

Saat ini, banyak masyarakat yang takut mengkritik, pemerintahnya sendiri. Takut dilaporkan. Dan takut dipidanakan. Kebebasan berbicara dan berekspresi hampir sirna. Jika ada yang kritis, dicari-cari kesalahannya. Dan bisa berujung di penjara.

Partai-partai politik juga, tak betul-betul membangun demokrasi yang sehat. Di internal mereka saja, tak ada nilai-nilai demokrasi yang diterapkan. Apalagi dalam konteks bernegara.

Partai-partai politik, lebih asyik main sendiri-sendiri. Terkooptasi oleh kekuasaan. Menikmati kekuasaan yang memang enak. Kekuasaan yang memabukan. Bukan membangun demokrasi yang dipikirkan. Tetapi bagaimana mengakali demokrasi, agar bisa mendapatkan kekuasaan.

Partai politik tak lagi banyak yang kritis. Karena semua partai politik sudah ada dalam genggaman pemerintah. Parlemen juga sudah menjadi stempel pemerintah. Mungkin hanya PKS saja, yang ingen beroposisi. Namun dalam kasus-kasus tertentu, PKS juga bisa bermesraan dengan penguasa.

Demokrasi yang lahir dari rahim reformasi. Kini menjadi tak lagi berkutik, dalam menghadapi pongahnya kekuasaan para elite di negeri ini. Para elite politik telah membajak demokrasi, untuk kepentingan diri, kelompok, dan partainya.

Demokrasi dibiarkan mati suri. Reformasi dibiarkan susah berdiri. Mahasiswa dilarang demonstrasi. Rakyat takut berbicara. Jika sudah begini, akan seperti apa republik ini ke depan.

Saat ini korupsi dibiarkan, kasus-kasus korupsi, banyak yang di peti es-kan. KPK diamputasi. APBN dijebol. BUMN digarong. Polisi banyak yang mengisi jabatan-jabatan sipil. Pemberantasan korupsi adalah amanah reformasi. Namun mereka yang korupsi, sepertinya sedang dilindungi.

Bisa ambyar negara ini. Dan bisa hancur negara ini. Jika reformasi sampai mati. Reformasi yang harusnya menemukan jalannya. Ya, jalan perbaikan, dalam seluruh sektor kehidupan berbangsa dan negara. Namun saat ini yang terjadi adalah, proses perusakan sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

22 tahun reformasi, yang jatuh pada hari ini. Sepertinya tak berbekas apa-apa. Tak ada perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengapa reformasi tak bergerak. Lalu mati. Karena soal “habbit”. Soal kebiasaan. Soal kebiasaan jelek korupsi.

Dulu di masa Orba, kebiasaan korupsi itu sudah tak aneh. Nah di masa reformasi saat ini juga, kebiasaan korupsi itu tak hilang. Kebiasaan menggarong uang negara itu tak berhenti. Kebiasaan memperkaya diri sendiri, itu juga tak pernah selesai.

Oleh karena itu, tak aneh dan tak heran. Orbanya tumbang. Namun perilaku pejabatnya masih korup. Bahkan kebiasaan korupsi saat ini makin gila. Kalau di zaman Orba, korupsi itu terpusat di lingkaran presiden. Tapi kalau saat ini, korupsi sudah menyebar kemana-mana dan ada dimana-mana.

Kalau dulu korupsi terjadi di bawah meja. Saat ini, korupsi dilakukan dengan meja-mejanya. Korupsi saat ini, bukan lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tapi sudah dilakukan secara terang benderang. Bahkan korupsinya dilakukan secara berjamaah.

Walau kondisi bangsa ini sedang galau. Sedang tak menguntungkan rakyat. Namun kita semua harus tetap menjaga reformasi. Jangan biarkan elite-elite itu membajak dan memperkosa reformasi.

Reformasi harus kita tumbuhkan kembali dengan kesadaran. Kesadaran untuk memperbaiki kondisi negara yang sedang rusak. Kesadaran untuk membangun bangsa agar menjadi negara besar dan bermartabat. Ini membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Rintangannya besar. Dan itu harus ditaklukan.

Jika reformasi sampai mati. Apa gunanya Orba ditumbangkan. Kita hidup di alam reformasi. Namun pikiran dan tindakan kita masih seperti dulu. Masih berbau Orba. Tak aneh dan tak heran, jika reformasinya “gagal” atau digagalkan.

Kenapa reformasi susah terjadi. Karena pejabat-pejabat kita hari ini, juga merupakan pejabat-pejabat di masa Orba. Kalau pun bukan. Tapi mentalitas dan karakter pejabat kita, masih bermental Orba.

Mari kita nyalakan kembali obor reformasi itu. Mari kita teriakan kembali spirit reformasi itu. Dan mari kita suarakan kembali cita-cita reformasi itu. Tak boleh kendor dan juga tak boleh lengah. Harapan harus tetap dipupuk. Optimisme harus tetap dibangun. Karena bangsa yang tak memilik harapan dan optimisme, hanya akan menjadi bangsa yang kalah. Bukankah begitu!

 

Sunardi Panjaitan

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu