News

Masyarakat yang Nekat Mudik Diprediksi Dua Kali Lipat Penduduk Singapura

Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengungkap kekhawatiran pemerintah terhadap aktivitas mudik lebaran tahun ini.


Masyarakat yang Nekat Mudik Diprediksi Dua Kali Lipat Penduduk Singapura
Menteri Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy (kanan) dan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini (kiri) di Istana Negara usai mengikuti rapat kabinet terbatas. (Istimewa)

AKURAT.CO, Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengungkap kekhawatiran pemerintah terhadap aktivitas mudik lebaran tahun ini.

Pelarangan mudik yang berlaku sejak 6-17 Mei mendatang merupakan upaya mengendalikan potensi penularan dari orang-orang yang tinggal di pusat kota ke keluarga di kampung halaman. 

Meskipun telah ada penegasan larangan mudik, pemerintah tak memungkiri tingkat kepatuhan atas ketetapan belum total. Masih ada pemudik yang nekat bepergian. Bahkan, kata Muhadjir, diprediksi, jumlah pemudik yang tetap akan bepergian mencapai 13 persen dari 73-80 juta orang yang biasa musik. 

"Jadi sekitar hampir 10 jutaan. Dan 10 juta itu cukup heboh. Cukup semrawut. Dua kali lipat penduduk Singapura," katanya dalam siaran persnya Rabu (21/4/2021). 

Ledakan jumlah pemudik yang tetap nekat bepergian itu menjadi perhatian serius pemerintah. Karena itu, Muhadjir mengungkapkan bahwa pihaknya tengah berupaya keras mencari cara memperkecil lagi jumlah yang tidak mematuhi larangan tidak mudik itu. 

Andai tak dilarang, kata dia, ada 73 juta orang yang mudik ke kampung halamannya tahun ini. Bila pemerintah menegakan disiplin swab test sebagai syarat jalan bagi 73 juta pemudik, pemerintah tidak akan mungkin sanggup mengerjakannya dalam waktu bersamaan. 

"Yang kita khawatirkan nanti banyak surat keterangan sehat abal-abal dan itu tidak akan bisa terkendali. Dan kita khawatirkan akan ada kerumunan yang tidak terencana," terangnya.

Selain itu, bila tak dilarang, momentum lebaran boleh jadi petaka besar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebab, akan banyak orang mudik secara serentak dan berbondong-bondong menuju kampung halaman. Sehingga, apabila mudik tidak dilarang, maka angka penularan Covid-19 akan lepas kendali.

"Beberapa daerah mudik juga akan kelimpahan orang dan pasti akan lengah. Kumpul tanpa masker tidak tahu siapa yang sehat yang tidak sehat. Akan lengah dan ditumpang euforia lebaran hari raya itu," kata Menko Muhadjir.[]

 

Arief Munandar

https://akurat.co