News

Masyarakat Irak Tolak Penguburan Jasad Korban COVID-19, Relawan Inisiasi Kuburan Khusus Corona


Masyarakat Irak Tolak Penguburan Jasad Korban COVID-19, Relawan Inisiasi Kuburan Khusus Corona
Seorang anggota Syiah dari Batalyon Imam Ali, terlihat berdoa di samping mayat korban COVID-19 di pemakaman Wadi al-Salam Baru dekat Najaf, Irak pada Senin, 20 Juli 2020 (Washington Post)

AKURAT.CO, Sudah bukan rahasia lagi bagaimana urusan penguburan menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Irak selama pandemi virus corona. Pasalnya, dengan kasus kematian yang sudah menembus lebih dari 4 ribu jiwa, Irak justru masih dihadapkan pada masalah penolakan masyarakat hingga pihak pengurus kuburan umum.

Isu ini pun kerap diangkat berbagai media setidaknya sejak Maret lalu. Pada 30 Maret lalu misalnya, Deccan Herald menuliskan kisah Saad Malik yang kebingungan mencari tempat untuk menguburkan ayahnya yang tewas karena COVID-19. Saat itu, jenazah ayah Malik bahkan diceritakan tidak terurus selama seminggu karena tidak ada pemakaman yang mau menerimanya.

Padahal seperti diketahui, dalam ajaran Islam, seseorang yang telah wafat harus segera dikuburkan. Sementara kremasi dilarang ketat, jasad juga diketahui sebisa mungkin dikebumikan dalam kurun waktu 24 jam.

Stigma bahwa virus corona bisa menyebar dari mayat korban COVID-19 pun menjadi penyebab utama mengapa ayah Malik tak kunjung dikebumikan.

"Kami tidak bisa mengadakan pemakaman untuknya dan belum bisa mengubur jasadnya, meskipun sudah lebih dari seminggu sejak ia meninggal. Bisakah Anda bayangkan di seluruh negara besar Irak ini, tidak ada beberapa persegi (lahan) untuk mengubur sejumlah kecil mayat?" ujar Malik penuh kegetiran.

Malik kemudian bercerita bagaimana orang-orang bersenjata yang mengaku sebagai pemimpin suku telah mengancamnya. Kelompok ini bahkan dilaporkan akan membakar mobil Malik jika ia tetap mencoba mengubur ayahnya di daerah mereka.

Dalam laporannya, Deccan Herald kemudian menulis bagaimana di timur laut ibu kota Baghdad, sejumlah tokoh suku mencegah tim pejabat kementerian kesehatan untuk mengubur empat mayat di pemakaman. Padahal, area makam ini secara khusus diperuntukkan negara bagi korban COVID-19.

Ketika pihak berwenang mencoba untuk menguburkan mayat-mayat tersebut ke pemakaman lain di sebelah tenggara Baghdad, puluhan warga kota setempat juga melakukan protes.

Namun penolakan terhadap penguburan terus berlanjut, termasuk di dua kota kuil Karbala dan Najaf. Disebutkan pula, bahwa kuburan Wadi al-Salam di Najaf sebenarnya adalah pemakaman terbesar di dunia.

Asharq Al-Awsat juga mengamini bahwa sebagian besar warga Irak yang tewas akibat COVID-19 belum menjalani pemakaman tradisional setelah banyak kuburan menolak untuk menerima jenazah mereka.

"Keluarga para korban sekarang menghadapi tantangan untuk mengubur mereka dengan benar karena ancaman terpapar virus dan penularannya kepada orang lain. Kuburan tradisional, baik yang ditujukan untuk komunitas Syiah di Najaf atau sekte Sunni di Diyala, tidak memungkinkan penguburan korban COVID-19," tulis Asharq Al-Awsat pada 26 Maret lalu.

Kemudian, pada 22-24 Juli ini, Republic World hingga Washington Post melaporkan bagaimana penolakan masyarakat terhadap korban tewas COVID-19 masih ada. Meski begitu, dalam perkembangannya, dua media ini menjelaskan bahwa saat ini, ada kuburan khusus untuk para korban COVID-19.

Dijuluki Wadi al-Salam Baru atau Lembah Kedamaian Baru, kuburan massal ini pun disebutkan terhampar luas di dekat kuburan Wadi al-Salam, luar kota suci Najaf.

Sedangkan, The New York Times melaporkan bahwa warga Irak biasa menyebut area pemakaman ini sebagai 'Kuburan Corona'.

"Setiap bab dalam sejarah modern Irak dapat dilihat di kuburan luas Wadi al-Salam di luar kota suci Najaf. Hamparan pasirnya masih tumbuh, (tetapi) kali ini dengan jasad korban virus corona. Tanah pemakaman khusus telah dibuat khusus untuk para korban COVID-19 karena pemakaman semacam itu telah ditolak oleh kuburan-kuburan Baghdad dan di tempat lain di Irak," tulis Washington Post.

"Di Irak, virus telah dikelilingi oleh stigma, didorong oleh kepercayaan agama, adat istiadat, dan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap sistem perawatan kesehatan," tambah laporan itu.

Sementara itu, proses hingga ritual penguburan diketahui dikerjakan hingga diawasi langsung oleh kelompok relawan Syiah dari Batalyon Imam Ali.

Sebagai informasi, Batalyon Imam Ali berada di bawah payung organisasi Popular Mobilization Forces (PMF). Sedangkan, dalam aktivitasnya, anggota PMF gencar memerangi kelompok Negara Islam di Irak (IS) selama beberapa tahun terakhir ini.

Meski diawasi oleh PMF, tetapi Kuburan Corona disebutkan menerima para korban dari semua agama dan tidak terbatas pada umat Islam saja.

"Kami (juga) memiliki lebih dari empat atau lima (penguburan) agama Kristen, Mereka dimakamkan dengan upacara khusus dan sesuai dengan permintaan (keluarga) mereka," ucap Sarmad Khalaf Ibrahim, seorang pejabat di departemen urusan para martir PMF.

PMF kemudian menjelaskan bahwa selama 4 bulan terakhir ini, Kuburan Corona setidaknya telah menerima lebih dari 3.200 jenazah korban COVID-19. Jenazah pun biasanya dibawa ambulans di malam hari dan prosedur pemakaman berlangsung saat fajar.

Hingga kini, Irak sendiri tercatat memiliki jumlah infeksi sebanyak 110.032 kasus. Sedangkan kasus kematian menurut Worldometer adalah 4.362 jiwa.[]