Rahmah

Masjid Darussalam Temanggung, Saksi Bisu Para Pejuang Bangsa

Pada masa penjajahan, Masjid Darussalam Temanggung kerap kali dijadikan sebagai tempat koordinasi bagi para pejuang kemerdekaan.


Masjid Darussalam Temanggung, Saksi Bisu Para Pejuang Bangsa
Madjid Darussalam Temanggung (Pinterest)

AKURAT.CO Salah satu kota di Indonesia yang memiliki bangunan bersejarah adalah Kota Temanggung. Kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah ini memiliki masjid yang sarat akan nilai sejarah, yaitu Masjid Agung Darussalam. Masjid yang letaknya persis di alun-alun ini merupakan salah satu bangunan kebanggaan umat Muslim di Kota penghasil Tembakau ini.

Bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini pada zaman penjajahan kerap kali dijadikan sebagai tempat koordinasi bagi para pejuang kemerdekaan. Menurut catatan sejarah, berdasarkan prasasti yang ditemukan oleh para ahli mengungkapkan Masjid Darussalam Temanggung didirikan pada tahun 1835 oleh Bupati Temanggung pertama, Raden Temanggung Joyonegoro.

Meski usianya sudah lebih dari 185 tahun, namun keberadaan bangunan masjid ini seperti layaknya masjid modern yang memiliki usia muda lantaran bangunan masjid yang megah dan arsitekturnya yang indah.

Tepat di sebelah barat bangunan masjid, terdapat makam R T Joyonegoro beserta keluarganya. Sampai saat ini makam tersebut masih dikunjungi bagi para peziarah. Setiap tanggal 10 November, diadakan upacara peringatan hari jadi Kota Temanggung di masjid ini.

Tepat di Hari Pahlawan itu, memiliki kaitan erat dengan kontribusi masjid sebagai tempat untuk bermusyawarah bagi pada masa penjajahan dulu. Selain itu, masjid ini digunakan sebagai tempat mengatur strategi para pejuang yang dikenal dengan pasukan bambu runcing.

Bangunan Masjid Agung Darussalam sempat direnovasi beberapa kali. Akan tetapi renovasi tersebut tidak pernah ditambahkan sama sekali. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan bentuk bangunan asli masjid. Terutama pada bagian yang mempunyai desain arsitektur kuno sebagai simbol keaslian masjid.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini difungsikan sebagai tempat Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Setiap hari-hari tertentu, Masjid Agung Darussalam juga sering digunakan untuk kerohanian bagi para narapidana.

Akan tetapi, di masa pandemi Covid-19 ini, Masjid Agung Darussalam memutuskan sesuai dengan aturan pemerintah yaitu meniadakan salat berjamaah seperti, salat tarawih, salat Jum'at dan salat berjamaah lima waktu. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.[]