Rahmah

Masjid Cheng Ho Palembang, Akulturasi Budaya di Bumi Sriwijaya

Masjid Cheng Ho didirikan diatas tanah 5000 meter persegi. Masjid yang mempunyai desain arsitektur China ini memiliki kapasitas 600 jamaah


Masjid Cheng Ho Palembang, Akulturasi Budaya di Bumi Sriwijaya
Masjid Cheng Hoo, Palembang (INSTAGRAM/maureenmoz)

AKURAT.CO Laksamana Cheng Ho (Zheng He), dikenal sebagai panglima angkatan laut Tiongkok pada abad ke-15, diyakini memimpin ekspedisi keliling dunia, termasuk ke Palembang.

Dalam Catatan Zheng He, yang diterjemahkan W.P Groeneveldt dengan judul Nusantara dalam Catatan Tiongkok, Cheng Ho datang ke Palembang pada ekspedisi pertamanya. Dia memburu Chen Zuyi, orang Guangdong, yang menguasai Palembang sebagai perompak. Misi itu berhasil. Cheng Ho kembali ke Tiongkok untuk menyerahkan perompak itu kepada kaisar. Chen Zuyi kemudian dipenggal di pasar di ibukota.

Menurut arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara, tindakan Cheng Ho menumpas bajak laut itu dengan sendirinya merupakan jasa pengamanan bagi kegiatan pelayaran dan perdagangan keluar-masuk kota pelabuhan dan kota Palembang.

“Karenanya pemimpin dan masyarakat daerah itu sangat berterimakasih dan menghargai jasa Cheng Ho,” kata Uka.

Meskipun belum ada bukti yang cukup, akan tetapi banyak yang percaya bahwa Cheng Ho merupakan seorang muslim dan memiliki misi mengislamkan  Indonesia, termasuk di Palembang. Karena perilakunya yang baik dan membawa kedamaian, Cheng Ho mempunyai banyak pengikut.

Keberadaan komunitas Tionghoa-Muslim juga memang sudah lama menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat di Palembang. Sebagai wujud penghormatan atas sosok Cheng Ho sekaligus mempererat persaudaraan di antara sesama muslim, maka dibangunlah Masjid Cheng Ho dengan arsitektur yang memadukan budaya Tiongkok, Islam, dan Palembang.

Masjid Cheng Ho didirikan diatas tanah 5000 meter persegi. Masjid yang mempunyai desain arsitektur China ini memiliki kapasitas 600 jamaah.

Sat kita melihat dari kejauhan, bangunan masjid ini terlihat begitu mencolok. Bangunan utamanya didominasi warna pink dengan pilar-pilar berwarna merah khas negeri tirai bambu. Atapnya terdapat kubah berwarna hijau dengan bulan sabit dan bintang mengadopsi dari masjid-masjid di Timur Tengah. Sementara di keempat sudut bangunan terdapat atap berbentuk limas, yang melambangkan salah satu bentuk rumah adat di Palembang, berwarna hijau.

Masjid ini memiliki dua menara serupa pagoda berwana merah, yang masing-masing diberi nama “Habluminallah” dan “Hambluminannas” yang artinya, ”hubungan manusia dengan Allah” dan “hubungan dengan sesama manusia”. Kedua menara itu mempunyai lima tingkat yang mempunyai filosofi waktu salat dalam sehari. Selain itu, masjid ini juga memiliki menara dengan tinggi mencapai 17 meter.

Pada bagian lantai dasar dari masing-masing menara terdapat tempat wudhu. Kemudian pada bagian luar menara dihiasi dengan ornamen khas Palembang berupa tanduk kambing.

Dengan ornamen-ornamen pada arsitekturnya, bukan tanpa sebab, Masjid Cheng Hoo menjadi salah satu keindahan kota Palembang yang sekaligus memperkaya khazanah budaya akulturasi dan tradisi Tionghoa di ranah peradaban Islam Indonesia.[]

Sumber: Indonesia Kaya