News

Masih Banyak yang Salah Kaprah, Kisah Kurir COD Dibentak-bentak Konsumen Ibu-ibu

Kurir COD tak jarang menjadi sasaran emosi pelanggan yang kesal karena barang yang tiba tidak sesuai pesanan. 


Masih Banyak yang Salah Kaprah, Kisah Kurir COD Dibentak-bentak Konsumen Ibu-ibu
Kurir aplikasi PINTAR (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Kurir Cash On Delivery (COD) kerap menjadi sasaran emosi pelanggan yang kesal karena barang yang dipesan tidak sesuai ekspektasi. Kisah model begini belakangan kerap diviralkan di media sosial dengan maksud menjadi pembelajaran.

Seperti kisah kurir COD yang penulis temui, yakni Ansori. Dia mengaku kerap berhadapan dengan konsumen rese, suka mencari masalah ketika menerima paket yang dipesan.

"Udah sering banget nemu yang kaya gitu (rese), tapi untungnya nggak ada yang sampai memukul atau ngancam," kata Ansori ketika ditemui AKURAT.CO di pangkalan ojek online (ojol) di depan ITC Permata Hijau, Sabtu (12/6/2021).

Ansori menceritakan, suatu hari dirinya pernah berdebat hebat dengan seorang pemesan paket COD di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Kala itu, pemesan bersikeras tidak mau bayar baju yang dipesannya. Alasannya karena ukuran dan warna baju tidak sesuai dengan pesanannya.

"Banyak sih yang salah kaprah, mereka (konsumen) mikirnya itu barang kita yang jual, kitakan cuman nganterin doang, saya bilang ke Ibunya, kalau mau protes telepon saja tokonya, saya mah enggak tahu apa-apa, cuma ngantar doang," tuturnya.

Setelah debat panjang lebar, pemesan paket akhirnya luluh. Namun tetap saja dia tak ikhlas membayar paket yang menurutnya salah.

"Akhirnya bayar juga, tapi sambil ngomel-ngomel. Si Ibu kayaknya baru pakai COD makanya nggak ngerti, kalau paket sudah dibuka yang nggak bisa dibalikin," ujarnya.

Belajar dari pengalaman itu, Ansori mulai menerapkan trik untuk memproteksi diri ancaman kerugian karena harus menalangi biaya paket yang ogah dibayar pemesan. Pun demikian teman-teman seprofesinya, banyak yang sudah mengalami hal itu. Pemesan ogah bayar paket dan mereka harus merogoh kocek untuk membayarnya.

Kata Ansori, kiat yang ia pakai untuk meloloskan diri dari pelanggan rese, yakni meminta bayaran terlebih dahulu sebelum memberi pesanan paket. Setelah duit sudah di tangan, Ansori bisa tenang, terserah pemesan paket mau marah atau tidak.

"Makanya harus pintar-pintar hadapi orang-orang kaya gitu. Kalau saya sekarang minta duitnya dulu baru kasih paketnya," ucapnya sembari terbahak.

Walau sudah menerapkan trik ini, namun Ansori mengaku masih banyak menemukan pemesan paket seperti ini, sering marah-marah tak jelas karena pesanan yang datang tidak sesuai keinginan.  

Beruntung dia tak sempat mengalami penganiayaan atau dibentak pemesan paket berkat penjelasan yang diterangkan kepada para pemesan paket itu.

"Kalau yang marah-marah masih sering nemuin, saya jelasin baik-baik ke mereka, kalau kami ini enggak tahu sama sekali barang pesan mereka. Jadi kalau salah ya marahnya jangan ke kami, ke yang jualan dong," ujarnya

Yang lebih bikin dongkol lanjut Ansori, banyak pemesan paket yang entah sengaja atau tidak justru menawar harga saat dirinya mengantar paket. Pemesan model begini kata dia biasanya datang dari kalangan ibu-ibu atau anak sekolah.

"Kadang kesel, tapi lucu, pas kita kasih pekatnya, dia malah nawar harga, dia pikir gue yang jualan," tutup Ansori sembari tertawa terbahak-bahak.[]