News

Marak Virus Corona, Namarin Pertanyakan Nasib Pelaut Indonesia di Kapal China


Marak Virus Corona, Namarin Pertanyakan Nasib Pelaut Indonesia di Kapal China
Sejumlah orang mengantre di luar sebuah toko obat untuk membeli masker di Shanghai, Cina, Jumat (24/1/2020) waktu setempat. Permintaan masker di Cina meningkat sejak menyebarnya virus corona yang telah menelan korban jiwa. Warga setempat menggunakan masker sebagai tindakan pencegahan menularnya virus corona tersebut. (REUTERS/Aly Song)

AKURAT.CO, Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, mempertanyakan nasib pelaut atau para pekerja asal Indonesia yang bekerja di atas kapal di perairan China.

Hal itu disampaikan Siswanto Rusdi saat menanggapi terkait mewabahnya virus Corona di China sehingga Pemerintah Indonesia mengantisipasi dengan berbagai langkah pengamanan. Terutama menutup penerbangan ke Wuhan, China, tempat di mana virus itu mulai mewabah.

Siswanto pun menyoroti nasib pelaut Indonesia yang bekerja di kapal berbendera China. Walaupun tidak tahu data pastinya, Siswanto menyebut jumlahnya sangat banyak mencapai ribuan.

Menurut Siswanto, bisa jadi pantauan KBRI di Beijing hanya kepada para pekerja dan mahasiswa Indonesia yang berada di darat saja. Sedangkan nasib pekerja asal Indonesia yang bekerja di atas kapal tidak terlalu dipantau.

"Pemerintah saya lihat belum mengeluarkan pernyataan soal nasib pelaut kita yang bekerja di kapal berbendera China, apakah aman dari virus Corona atau tidak. Inikan jadi indikasi kalau pelaut itu cenderung dianak tirikan dibanding kelas pekerja lain atau mahasiswa," ungkapnya dalam keterangan resmi, Jakarta, Minggu (26/1/2020).

Siswanto pun meminta Pemerintah Indonesia untuk tidak menganak tirikan pelaut. Dia menunggu pernyataan resmi baik dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) maupun Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker).

"Karena kan kita juga belum tahu, pelaut kita yang bekerja di kapal berbendera China pernah ke Wuhan atau tidak, atau berinteraksi dengan pelaut China asal Wuhan atau tidak? Jadi ini harus diidentifikasi oleh pemerintah, apalagi menularnya virus ini sangat cepat," ujarnya.

Siswanto menegaskan bahwa profesi pelaut ini merupakan profesi yang terhormat dan dilindungi oleh berbagai peraturan baik nasional maupun internasional. Sehingga keberadaannya juga harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah.

"Pelaut itu dilindungi oleh berbagai organisasi internasional seperti ILO, ITF dan IMO. Jadi pemerintah Indonesia janganlah menutup mata. Giliran PRT (Pembantu Rumah Tangga) diurus, pesawat-pesawat lebih diperhatikan, tapi pelaut sama sekali tidak," katanya.

Seperti diketahui, sebelumnya Menhub Budi Karya Sumadi meminta sejumlah maskapai tidak melakukan rute penerbangan ke Wuhan.

Begitu pula Menlu Retno Marsudi yang menyebutkan terdapat ribuan mahasiswa di China yang aman dari virus tersebut. Menurutnya, 90 persen mahasiswa yang ada di Wuhan sudah kembali ke Indonesia.

Selain itu, WNI lain yang masih berada di China juga dipastikan tidak terjangkit virus tersebut. Informasi ini diperoleh dari data KBRI di Beijing.

"Nah juga ada warga negara lain yang semua terpantau dan dari pantauan KBRI di Beijing belum ada informasi terjangkitnya atau terkenanya WNI dari wabah yang sedang terjadi di China tersebut," ungkapnya.[]