Ekonomi

Marak Koperasi Gagal Bayar, Pengamat: Mirip Fenomena Gunung Es!

Pengamat: koperasi gagal bayar yang terjadi berulang ulang itu sebetulnya sebuah fenomena gunung es karena terlalu sering terjadi di berbagai daerah.


Marak Koperasi Gagal Bayar, Pengamat: Mirip Fenomena Gunung Es!
Ilustrasi Koperasi. Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis ( AKSES) Suroto menilai Koperasi Simpan Pinjam / Koperasi Kredit di Indonesia seringkali mengalami gagal bayar seperti sebuah fenomena gunung es. (Akurat.co/Luqman Hakim Naba)

AKURAT.CO Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis ( AKSES) Suroto menilai Koperasi Simpan Pinjam / Koperasi Kredit di Indonesia seringkali mengalami gagal bayar dan berdampak pada dana anggota yang tersimpan tidak bisa diambil kembali. Sehingga apabila masalah itu sampai ke pengadilan biasanya anggota tetap saja menjadi pihak yang dirugikan. 

"Sebut saja misalnya kasus Koperasi Maju Bersama, Koperasi Pandawa, Koperasi Langit Biru, Koperasi Cipaganti dan sederet kasus besar lainya yang telah membuat ribuan anggotanya harus gigit jari. Kasus yang sedang ramai di media saat ini misalnya Koperasi Sejahtera Bersama ( KSB), Koperasi Indosurya," ujarnya kepada Akurat.co, Senin (17/1/2022).

Padahal, lanjutnya, mereka yang menyimpan adalah masyarakat kecil yang biasanya sumber dananya berasal dari usahanya bertahun tahun untuk mengumpulkan tabungan tersebut dan bahkan ada yang sengaja melakukan mobilisasi dana dari sanak familinya karena distimulasi kompensasi berupa fee tertentu yang diberikan kepada mereka. 

baca juga:

Suroto berpendapat, koperasi gagal bayar yang terjadi berulang ulang itu sebetulnya sebuah fenomena gunung es. Sebab, kasus-kasus yang korban dengan jumlah dana dan anggota lebih kecil sebetulnya terlalu sering terjadi di berbagai daerah.

Menurutnya penyebab merebaknya koperasi gagal bayar karena tidak adanya Lembaga Penjamin Simpanan ( LPS ) untuk koperasi seperti yang dibentuk oleh pemerintah untuk bank. 

"Jadi tidak adanya penjaminan simpanan ini mendorong pelaku koperasi akhirnya terpaksa berkompetisi dengan bank dengan cara memberikan iming iming tingkat bunga simpanan yang tinggi kepada calon anggotanya, tingkat suku bunga simpanan koperasi yang tinggi tersebut menyebabkan tingkat "spread" atau selisih bunga simpanan dan pinjaman koperasi menjadi tidak kompetitif jika dibandingkan dengan bank," tegasnya.

Sehingga pada akhirnya, lanjut Suroto, kondisi yang ada mendorong munculnya spekulasi tinggi manajemen koperasi untuk mendorong produktifitas pengelolaan dana ke portofolio yang beresiko tinggi tanpa sepengetahuan anggota. Ketika portofolionya gagal, maka merembet kepada masalah likuiditas koperasi yang jeblok. 

"Ketika likuiditas koperasi tak lagi dapat melayani penarikan dana anggota akhirnya memunculkan ketidakpercayaan anggota koperasi dan berujung pada munculnya "rush" atau penarikan dana besar besar ke koperasi. Pihak manajemen koperasi yang tidak pernah melibatkan dan memberikan pemahaman tata kelola koperasi kepada anggotanya secara baik akhirnya berujung pada munculnya konflik antara manajemen koperasi dan anggotanya. Bahkan manajemen dalam hal ini pengurus dan karyawan bertindak seperti pihak yang lebih berkuasa ketimbang anggotanya," ucapnya.

"Sehingga anggota koperasi yang tidak memahami masalah keamanan dana dan juga pengetahuan koperasinya yang rendah dan hanya tergiur oleh tingkat pengembalian yang tinggi akhirnya terjebak menjadi korban koperasi gagal bayar," pungkasnya.[]