News

Mantan Presiden Mali yang Dikudeta Militer, Ibrahim Boubacar Keita Wafat

Ibrahim Boubacar Keita memerintah Mali sejak September 2013 sebelum digulingkan oleh kudeta militer pada Agustus 2020.


Mantan Presiden Mali yang Dikudeta Militer, Ibrahim Boubacar Keita Wafat
Mantan Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita wafat di usia 76 tahun pada Minggu (16/1) di Bamako. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO Mantan Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita wafat pada usia 76 tahun pada Minggu (16/1). Ia telah memerintah negara tersebut selama 7 tahun sejak September 2013 sebelum digulingkan oleh militer pada Agustus 2020.

Dilansir dari Reuters, 7 tahun pemerintahan pria yang akrab dipanggil dengan inisialnya 'IBK' ini penuh gejolak, di mana gerilyawan Islam menyerbu banyak wilayah dan kekerasan etnis berkobar. Sengketa pemilu legislatif, rumor korupsi, dan rendahnya pertumbuhan ekonomi juga memicu kemarahan publik. Puluhan ribu massa lantas turun ke jalan di ibu kota Bamako pada 2020 untuk mendesaknya mundur.

Ia akhirnya disingkirkan melalui kudeta militer, yang mana para pemimpinnya masih berkuasa, meski ada keberatan internasional.

baca juga:

"Pemerintah dan rakyat Mali memberi hormat untuk mengenang almarhum yang tersohor," bunyi pernyataan otoritas Mali pada Minggu (16/1).

Ucapan belasungkawa pun datang dari para pemimpin di kawasan Afrika Barat, termasuk Presiden Senegal Macky Sall dan Presiden Burkina Faso Roch Kabore.

Penyebab kematiannya masih belum jelas. Menurut seorang mantan penasihat, Keita kerap bepergian ke luar negeri untuk perawatan medis. Ia mengembuskan napas terakhirnya di rumahnya di Bamako.

Keita menjadi tahanan rumah selama kudeta, tetapi pembatasan itu dicabut berkat tekanan dari aliansi politik Afrika Barat, ECOWAS.

Mendiang terkenal dengan jubah putihnya yang menjuntai dan kecenderungannya untuk mengumpat. Ia berkuasa berkat kemenangan telak dalam Pemilu 2013. Pria itu pun bersumpah untuk melawan korupsi yang telah mengikis dukungan untuk pendahulunya, Amadou Toumani Toure, yang juga digulingkan dengan kudeta.

"IBK adalah pria yang mencintai negaranya. Ia orang baik yang tak pernah mengkhianati Mali dan melakukan segalanya agar tak jatuh," ungkap seorang wanita yang melayat ke rumah Keita pada Minggu (16/1).

Sebagai presiden, Keita menikmati dukungan internasional yang kuat, terutama dari Prancis yang dulu menjajahnya. Negeri Eiffel telah menggelontorkan uang dan pasukan untuk melawan para jihadis terkait Al Qaeda yang pada 2012 membajak pemberontakan etnis Tuareg dan menguasai gurun utara.

Namun, ketidakamanan yang tak kunjung padam akhirnya merusak kepresidenannya.

Keita juga dirundung tuduhan korupsi. Pada tahun 2014, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional membekukan pembiayaan hampir USD 70 juta (kini sekitar Rp1 triliun). Keputusan itu dijatuhkan usai IMF mengaku prihatin atas pembelian jet kepresidenan senilai USD 40 juta (kini setara Rp572 miliar) dan transparansi pengeluaran pertahanan Mali.

Ketika tersiar kabar pada 2020 tentang digulingkannya Keita, ribuan orang merayakannya di jalan. Dengan janji mengakhiri nepotisme dan korupsi, militer menyasar jutaan rakyat miskin Mali yang ingin beranjak dari masa lalu.

Pada Jumat (14/1), 18 bulan kemudian, ribuan orang berdemonstrasi di Bamako untuk menentang sanksi keras ECOWAS kepada pemerintah transisi karena mencoba memperpanjang kekuasaannya.[]